Ekonomi : 13 Juni 2017

Pemerintah Segera Tetapkan Harga Baru BBM

Editor : Putrajaya - Reporter : Put

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bakal merampungkan kajian mengenai besaran harga bahan bakar minyak terbaru pada akhir bulan ini. Kajian tersebut bakal dipakai untuk harga BBM per Juli hingga September 2017.

"Nanti tanggal 25 hingga 26 (Juni 2017), selesai kajiannya," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (13/6).

Ia menerangkan kajian mengenai harga BBM terbaru didasarkan pada beberapa hal. Antara lain mempertimbangkan rata-rata harga Mean of Plats Singapore (MOPS), harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP), serta nilai tukar dolar dengan kurs beli Bank Indonesia.

"Kita sudah monitor terus. Harga BBMnya bisa tetap, bisa turun, bisa naik," ujar Wirat.

Pada Mei 2017 terakhir harga ICP mengalami penurunan. Sebelumnya pada April besaran ICP sekitar 49,56 dolar AS per barel dan Mei turun ke 47,09‎ AS per barel. Ketika ditanyakan bagaimana fakta tersebut berkaitan dengan besaran harga BBM terbaru, ia enggan menanggapi lebih jauh. "Tunggu ya, grafiknya kita pantau terus," ujar Wirat.
 
Terkait pernyataan PT Pertamina Persero yang menyebut harga Premium dan Solar bersubsidi selisihnya jauh lebih besar dibandingkan dengan yang ditetapkan pemerintah, menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menjadikannya sebagai salah satu pertimbangan penetapan harga BBM terbaru per Juli 2017.

"Keputusan kita tetap ada di pimpinan, kita kaji semua data dan segala macam," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja.

Sebelumnya, PT Pertamina Persero menyatakan harga BBM jenis Premium (Rp 6.450 per liter) dan Solar (Rp 5.150 per liter) akan ekonomis jika harga minyak dunia berada dalam kisaran 40 dolar AS per barel.  Direktur Pemasaran Pertamina, Mohamamad Iskandar mengatakan saat ini selisih harga Premium yang harus ditombok Pertamina sekitar Rp 400an per liter dan solar sebesar Rp 1.150 per liter.

Sementara itu, Direktur Keuangan Pertamina, Arif Budiman mengungkapkan untuk mengisi harga keekonomian dengan harga BBM yang tetap, perusahaan tersebut melakukan subsidi silang dari pendapatan bisnis lain. "Selama kita bisa cross subsidi, kita lakukan (menutup selisih)," tutur Arif.  [*]

Berita Terbaru