Opini : 14 November 2017

Waspada Model Serangan ISIS

Editor : Ril - Reporter : Ardian Wiwaha

Meskipun tidak seintens tahun-tahun sebelumnya, pergerakan kelompok radikal dan ekstrimis Islamic State of Syria and Iraq atau yang dikenal dengan ISIS masih terus mencari pandangan publik dengan melakukan berbagai serangan yang mematikan. 

 

Mulai dari serangan yang berbentuk lone wolf hingga serangan kelompok yang membabi buta melancarkan berbagai serangan baik berupa bom maupun serangan senjata tak berkemanusiaan.

 

Seperti yang terjadi baru-baru ini di Markas Kepolisian Resor Dharmasraya, Sumatera Barat, yangmana diserang oleh dua orang yang tak dikenal pada Ahad, 12 November 2017 sekitar pukul 02.45 WIB.

 

Tak hanya berupa penyerangan dan perlawanan terhadap pihak kepolisian, namun pelaku yang diduga terafiliasi dengan kelompok ISIS tersebut juga melakukan pembakaran gedung utama Mapolres yang terletak di Jalan Lintas Sumatera, Gunung Medang. 

 

Pada awalnya petugas melihat ada gumpalan asap tebal di bangunan utama Polres Dharmasraya. Sehingga petugas langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Kebakaran dan melakukan pemadaman. Namun demikian, ketika proses pemadaman berlangsung tiba-tiba dua orang yang tak dikenal yang diduga pelaku menghalangi pemadaman dan mengancam petugas. Tak ayal perlawanan yang menggunakan busur panah diberikan oleh dua orang tak dikenal tersebut  memaksa petugas untuk dilumpukan.

 

Apabila dilihat secara seksama, salah satu alasan utama kelompok ISIS melakukan berbagai serangan brutal dilandasi oleh khayalan kebangkitan khilafah global. Padahal yang terjadi, kelompok ISIS justru menghancurkan nilai keadilan dan kemanusian, serta melupakan Tuhan.

 

Kini semakin jelas apabila khilafah global yang didengungkan oleh simpatisan hingga kelompok afiliasi ISIS hanya berupa isapan jempol semata. Terdapat banyak motif yang digunakan ISIS dalam setiap aksi brutalnya, seperti alasan ekonomi dan perebutan kekuasaan. 

 

Namun yang pasti, ketidaksingkronan antara hati dan akal pikiran dapat menjadi benang merah penyebab sebagian orang dan/atau kelompok pro terhadap eksistensi ISIS.

 

Seperti di kawasan Iraq dan Syria, sangat tersurat ketika kelompok ISIS didaerah tersebut berjuang dan berperang hanya untuk menguasai ladang-ladang minyak yang ada. Motif mendulang kekayaan dapat dijadikan alasan dasar dari pergerakan mereka yang malah justru melupakan akhirat dan mendengungkan kekayaan duniawi.

 

Di luar kebrutalan dan bertentangannya pergerakan kelompok ISIS dengan nilai-nilai agama, kekhawatiran saat ini justru menyelimuti kita semua dengan adanya keterlibatan anak-anak muda dalam pergerakan dan rekrutmen kelompok ISIS. Mereka kerap dijadikan ujung panah bagi kelompok laknat tersebut sebagai pelaku bom bunuh diri hingga eksekutor aksi teror lain.

 

Kini, kewaspadaan terhadap berbagai serangan dan potensi terorisme harus semakin ditingkatkan diseluruh penjuru negeri. Seluruh elemen bangsa baik dari ulama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, hingga penggiat dunia maya sekalipun harus bersatu padu menangkal pergerakan kelompok teroris baik secara maya maupun secara nyata.

 

Sehingga bentuk kepedulian terhadap teror pun tidak semata-mata kita bebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Diperlukan peran serta seluruh komponen bangsa dan semua lapisan masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan dini, sehingga dapat membatasi langkah menyebarnya paham radikal berbasis agama yang tumpang tindih dengan keinginan dan kepentingan duniawi. ***

 

*) Oleh: Ardian Wiwaha, Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Sosial Politik di Universitas Indonesia

Berita Terbaru