13 Syawwal 1441 H / Jumat, 5 Juni 2020
Melihat Tradisi Rantau Larangan Desa Rokan Koto Ruang Rohul
rohul | Rabu , 04 September 2019
Editor : | Penulis : Hendra
Bupati Sukiman, mengawali menebar jala saat hadiri pembukaan tradisi Rantau Larangan Sei Pusu di Dusun III Kampung Tinggi

PASIR PANGARAIAN – Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu (Pemkab Rohul) mengakui, tradisi Rantau Larangan Sei Pusu di Dusun III Kampung Tinggi, Desa Rokan Koto Ruang, Kecamatan Rokan IV Koto, masih jadi budaya kearifan lokal. Eksistensinya masih tetap terjaga di masyarakat hingga kini.

Tradisi Rantau Larangan Sei Pusu di Dusun III Kampung Tinggi, Desa Rokan Koto Ruang, sebagai upaya untuk melestarikan biota dan lingkungan hidup di Daerah Aliaran Sungai (DAS) Sungai Pusu yang dapat dimanfaatkan masyar­kat sekitar untuk penangkapan ikan, sampai batas waktu yang ditentukan oleh Datuk Adat.

Itu dikatakan Bupati Rokan Hulu (Rohul), H Sukiman disela membuka Tradisi Rantau Larangan Sei Pusu di Dusun III Kampung Tinggi, Desa Rokan Koto Ruang, Kecamatan Rokan IV Koto, Kabupaten Rohul, belum lama ini.

Tradisi Rantau Larangan Sei Pusu, dibuka dengan diawali masyarakat minta izin ke Datuk Adat, agar membuka Rantau Larangan. Setelah mendapat izin dari datuk Adat, Rantau Larangan Sei Pusu itu resmi dibuka Bupati Sukiman ditandai dengan menebar Jala dan pemukulan gong sebanyak 7 kali.      

Kegiatan dihadiri Ketua TP PKK Rohul Hj Peni Herawati, Forkompinda Rohul, Kadis PUPR Rohul Anton ST MM, Kepala Bappeda Nifzar dan Kepala OPD Rohul, Kepala Desa Rokan Koto Ruang Alex Usanto, Kades se Rokan IV Koto, Tokoh Adat dan Tokoh Masyarakat Desa Rokan Koto Ruang dan ratusan Masyarakat Desa Rokan Koto Ruang.

Melalui Tradisi Rantau Larangan Sei Pusu ini, diakui Bupati Sukiman, sebagai pelestarian lingkungan hidup, Eksistensi Sungai Pusu bersama habitatnya terjaga dengan baik, dimana tumbuhan dan makhluk hidup dapat berkembang biak.

“Tradisi Rantau Larangan Sei Pusu ini dapat juga menjaga kelestarian lingkungan disepanjang Sungai Pusu ini, hal ini dapat dicontoh untuk menjaga kelestarian dan ekosistem sungai sebagai di Negeri Seribu Suluk,” kata Sukiman

Terkait aspirasi masyarakat untuk pembangunan Infrastruktur jalan, dikatakan Sukiman, Pemkab Rohul terus berupaya untuk membangun jalan ini secara bertahap, meskipun saat ini jalan sudah di Base, Ia berharap jalan ini setiap tahun terus dilakukan peningkatan.

Kepala Desa Rokan Koto Ruang Alex Usanto kepada wartawan,mengatakan Tradisi Rantau Larangan ini merupakan kegiatan yang sudah dilakukan sejak turun temurun dilaksanakan dari tahun ke tahun, yang merupakan bagian dari ritual Adat masyarakat Desa ini.

“Tradisi Rantau Larangan merupakan potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki masyarakat Adat yang salah satunya Rantau Larangan dan Hutan Rakyat. Kalau di darat itu ada tanah Ulayat atau hutan rakyat, kalau di air itu ada Rantau Larangan yang dilaksanakan sekali setahun,” jelasnya

“Setelah acara, Sungai Pusu sudah mulai ditutup (Tidak ada aktivitas menangkap ikan ) sampai dengan tahun depan, yang dibuka setiap musim kemarau disepanjang 2 KM Aliran Sungai Pusu ini,” kata Alex

Alex Usanto menambahkan, alat yang digunakan masyarakat untuk menangkap ikan dalam Tradisi Rantau Larangan di Sungai Pusu ini seperti jala, Pukat, jaring dan Penembak ikan.

“Biasanya setelah dipakai menggunakan jala, Pemudanya mencari ikan dengan cara menembak dengan alat tradisional, biasanya ikan yang didapat sejenis ikan Canggah, Kepiyek, Barau dan jenis ikan sungai lainnya,” kata Alex

Alex Usanto mengaku, Rantau Larangan Sungai Pusu hingga kini masih sangat sakral dan mistis, Dulu pernah ada orang meninggal karena makan ikan larangan. Peraturan terkait Rantau Larangan, hanya berlaku aturan Adat, konsekuensinya bagi orang yang mengambil dan memakan ikan ini tidak didenda tapi akan menjadi penyakit yang bisa menyebabkan kematian.

“Jadi Warga mengartikan rantau larangan ini adalah masyarakat dilarang me­nangkap ikan di dalam su­ngai, sebelum waktu yang di­tentukan. Jadi ikan lubuk la­rang­an selama satu tahun tidak boleh diambil, dulu ada orang meninggal kemudian baru-baru ini ada dua ekor kucing yang mati karena makan ikan Rantau larangan ini,” kata Alex

Terkait kedatangan orang nomor satu di Rohul itu, Alex mengaku masyarakat mengharapkan dibangun Jalan, Jaringan Listrik, karena sampai sekaranag masyarakat pakai Genset yang dibeli secara swadaya masayarakat.

“Selain itu, di Desa Rokan Koto Ruang dibutuhkan pembangunan Sekolah. Di sini sudah lama tidak di rehap, itu pun mobilernya dari swadaya dan tidak ada MCK. Masyarakat juga minta bantuan Pembangunan mesjid dan dibidang Kesehatan untuk penambahan bidan desa,” harap Alex.*

 


Komentar

Artikel Terbaru
Kamis , 04 Juni 2020 : 00:00:00

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) merilis skema penghitungan.


Kamis , 04 Juni 2020 : 00:00:00

Sikap amanah menjadi hal mutlak yang harus dilakukan Badan.


Kamis , 04 Juni 2020 : 00:00:00

Perwako Pekanbaru  persiapan menuju new normal, yang.


Rabu , 03 Juni 2020 : 00:00:00

Komisi Informasi (KI) Riau bersama Diskominfopers Kabupaten.


Rabu , 03 Juni 2020 : 00:00:00

Saat pandemi covid-19 lalu, Pemprov Riau mengalokasikan dana.


Rabu , 03 Juni 2020 : 00:00:00

Keputusan pemerintah membatalkan keberangkatan jemaah haji tahun.


Selasa , 02 Juni 2020 : 00:00:00

PWI Pusat mendorong Dewan Pers agar segera memproses secara hukum.


Selasa , 02 Juni 2020 : 00:00:00

Maskapai yang tergabung dalam Lion Air Group, yakni Batik Air,.


Selasa , 02 Juni 2020 : 00:00:00

PWI Pusat mendorong Dewan Pers agar segera memproses secara hukum.


Selasa , 02 Juni 2020 : 00:00:00

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersumpah mengerahkan.