23 Zulqaidah 1441 H / Selasa, 14 Juli 2020
Hj Maryenik Yanda SH, Ketua IWAPI Pekanbaru
Fokus Belasan Tahun, Asam Pedas Baungnya Dicicipi hingga Mancanegara
wanita | Jumat, 12 Juni 2020
Editor : Deslina Jamran Jamil | Penulis : Deslina Jamran Jamil
Hj Maryenik Yanda SH, Pemilik " Angringan Pondok Baung"

Siapa yang tak kenal menu asam pedas ikan baung jika sudah ke Ibu Kota Propinsi Riau, Pekanbaru. Rasanya ada yang kurang jika tak mencicipi menu favorit dari ranah Melayu ini, asam pedas baung. Kendati menu ini cukup mahal, namun kelezatannya mampu membuat orang lupa menghitung-hitung harganya. Jika Anda pelancong, kelezatan ikan baung inipun bisa dicicpi keluarga lain yang tak sempat datang, karena Hj Maryenik SH, pemilik Pondok Baung Asam Pedas, mampu mensiasati menu ini hingga tahan delapan

MARYENIK, perempuan kelahiran Jokjarta, 20 September 1964 ini memang hobi kuliner. Bersama suaminya H Zakamlis, Nanik, begitu ibu dari M Indra Kusuma, M Fadhli Aribowo dan M Helmi Triansyah dan Yuliana Riska ini disapa selalu berkeliling mencicipi berbagai ragam menu, baik di Kota Pekanbaru sendiri maupun luar Provinsi Riau.

Dari pengalaman kuliner di Pekanbaru sendiri, tahun 1999 silam Nanik, begitu perempuan cantik ini melihat, tak banyak rumah makan Melayu yang menonjolkan ikan baung sebagai maskot menu di rumah makan mereka. Kalaupun ada, dirinya melihat menu itu hanyalah pelengkap dari berbagai menu lauk lainnya." Saya kok heran, padahal ikan baung itu ikan hasil sungai di Riau, tapi tak banyak yang tertarik fokus kesitu. Kalau ikan patin sudah ada. Kondisi inilah membuat saya tertantang untuk mencoba melirik bisnis rumah makan dengan fokus pada ikan baung seabgai maskot menu,'' jelas Nanik.

Nanik yang saat itu menekuni bisnis cuci mobil, makin penasaran mengujudkan mimpinya. Hanya saat itu, Nanik binggung untuk memndapatkan koki yang mahir meracik menu daerah itu sebagai sajian membuat lidah orang ketagihan." Awalnya binggung cari koki, tapi ternyata dari seorang teman, saya ditunjukan ada kopki yang baru keluar dari rumah makan, yang memang menjual menu masakan khas Melayu,'' ujar Nanik. Tanpa pikir panjang, begitu mengantongi nama dan alamat koki itu, Nanik langsung berangkat ke kampung sang koki dan mengutarakan niatnya. Ternyata direspon baik, dan dia menyetujui tawaran Nanik.

" Tanpa pikir panjang, saya langsung merealisasi mimpinya dengan sedikit memebenahi dan memperluas bangunan di lokasi pencucian mobil. walau memulainya hanya 15 meja, kita langsung beroperasi dengan menu khas asam pedas baung,'' jelas Nanik. Bahkan nanik dan suami juga tak etrlalu pusing-pusing memikirkan soal nama yang cocok untuk usaha rumah makannya itu. " dari awal saya dan suami sudah sepakat, kalau rumah makan kami akan diberi nama Pondok Asam Pedas Baung," ungkap Nanik tersenyum.

Walau memiliki koki yang cukup handal meracik menunya, tapi sebagai orang yang hobi makan dan juga bisa masak, tak jarang Nanik juga mengkreasikan menu-menu di beberapa daerah yang sempat dikunjunginya dengan bahan baku yang ada di Riau. " Saya Hobi masak, bahkan papa saya bisa membedakan, sambal yang disajikan itu saya yang masak atau saudara yang lain,'' ujar perempuan yang menjabat sebagai Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Pekanbaru. Kendati hanya beberapa menu tambahan hasil kreasinya jadi salah satu menu rumah makannya itu, tapi Nanik cukup puas, banyak tamu yang datang menikmatinya."Ia, tak jarang mereka bertanya soal resepnya,''ungkap Nanik.

Selalu Menjaga Kualitas Rasa

Menyinggung soal menjaga kualitas rasa kekhasan menu asam pedas baungnya, Nanik mengaku terletak pada racikannya dan koki yang sama sejak berdiri tahun 1999, hingga saat ini tak pernah berganti, sehingga racikannya tak pernah berubah dari rasa khasnya. Bahan untuk bumbu gulainya, merupakan olahan sendiri dari bahan baku yang segar." Kita tak pernah beli cabai atau bumbu yang sudah digiling dipasar, tapi kita giling sendiri. Bahkan bahan baku bumbu itu kita pilih yang segar. Begitu juga soal takarannya, sudah standar,'' tambahnya.

Mempertahankan rasa ini diakui Nanik merupakan triknya untuk menggaet pelanggan. Bahkan Nanik mengaku, banyak pelanggannya yang datang dari luar negri, selalu kembali datang saat berkunjung ke Pekanbaru. Bahkan, ada juga langganannya seorang bule yang bekerja di perusahaan minyak, selalu mmesan menu asam pedas baung untuk dibawa keluar negri."Karena kita punya kemasan termos yang bisa membuat asam pedas baung bertahan tetap hangat hingga 8 jam. Kalau hanya dibawa ke Jakarta, Singapura dan Malaysia, kemasan yang kami siapkan bisa tahan kok. malah bule langganan kami nitu, punya trik yang siasati ikan itu bisa bertahan hingga ke Amerika. Caranya, ikan baung segarnya kita masukan dulu ke freezer, setelah itu kita press dengan kemasan, baru kemudian dimasukan ke dalam termos plastik tadi. Begitu juga dengan kuahnya, setelah dimasak kita masukan ke freezer, baru dimasukan dalam termos kemasan. Jadi pas ditempat tujuan tinggal memaskan kuah asam pedas, lalu masukkan ikan baungnya setelah esnya melumer.Langganan saya itu bilang, rasa asam pedas baung setelah sampai di luar negri tak berubah sama sekali. Katanya, seperti rasa dia makan di Pekanbaru," jelas perempuan yang memiliki jabatan Bendahara Golkar Provinsi Riau dan jabatan penting di organisasi sosial dan kemasyarakatan di Pekanbaru.

Karyawan Aset Terbesar

Disinggung bagaimana Nanik tetap eksis menggelola rumah makannya itu, anak dari mantan abggota DPD RI Utusan Riau Hj Maimanah Umar itu mengakui, semuanya terletak pada team work yang terjalin secara kekeluargaan, antara dirinya seabgai pemilik dan karyawannya.

" Saya memperlakukan karyawan sebagai keluarga sendiri. Artinya, ketika dia menghadapi persoalan dalam keluarganya, saya juga peka untuk segera membantu meraka untuk menyelesaikannya." Sudah saya anggap seperti adik, kalau yang kecil, abang, kalau yang umurnya diatas saya. Karena saya nyakin, karyawan adalah aset terbesar dalam tumbuh kembangnya usaha. Saya tidak ada apa-apanya, kalau tidak didukung oleh kinerja dan tanggung jawab karyawan yang ada,''tambah Nanik.

" Biasanya, setelah rumah makan tutup, saya panggil karyawan, kita diskusikan kemunduran-kemunduran yang terjadi. Bahkan kita juga saling intropeksi diri, apakah sepinya rumah makan itu, karena soal rasa, atau pelayanan kita yang kurang baik. Itu kita evaluasi setiap saat,''lanjut Nanik yang kini sudah menyerahkan operasional sehari-hari keseorang manajer. Kendati demikian, hampir setiap pagi Nanik selalu datang untuk sekadar mencoba makanan, memastikan kualitas menu yang disajikan hari itu." Iya, untuk memastikanm kualitas menu saja, mana tahu ada yang meleset dari rasa kekhasan kita. Namanya juga manusia, pasti ada khilafnya,'' kata Nanik.

Melebarkan Usaha Kuliner

Berkembangnya usaha kuliner Pondok Baung miliknya, membuat Nanik mencoba melebarkan sayap di bisnis yang sama. Namun kala itu Nanik membeli dua franchise menu yang cukup punya nama di tahun 2010, bakso tomat dan mie raos. Namun hanya bertahan beberapa tahun, walau diakuinya tidak merugikan saat membangun usaha resto dengan sistem franchise tersebut. Nanik hanya merasakan, tidak seleluasa seperti menjalankan resto konvensional yang dirintisnya sendiri ." Cukup laris, namun akhirnya dua usaha resto franchise itu saya tutup, setelah balek modal,'' ujar Nanik tertawa.

Kemudian, seiring dengan tren nongkrong kaum milenial di kafe walau mencicipi secangkir kopi namun berjam-jam menikmati kencangnya WIFI, membuat Nanik melirik bisnis ini. Mengambil posisi di Jalan Diponegoro, Nanik menyewa rumah minimalis eks rumah dinas, dan menyulapnya menjadi kafe anak muda dengan interior dan eksterior kekinian. Soal menu cukup beragam, bukan hanya menu yang disesuaikan dengan selera dan kantong milenial, tapi juga bisa dicicipi bersama keluarga.

Nanik bersyukur, putra sulungnya mau membantu merintis dan membangun usaha kafe dan kuliner mengikuti jejaknya yang diberi nama "Dapur Dipo" 

Di tahun 2019 ini, Nanik yang masih fokus pada menu asam pedas baungnya, mulai melakukan perombakan pada eksterior dan interior bangunan restonya “Pondok Baung Asam Pedas”, yang dulu berbentuk semi panggung, khas rumah melayu, kini sudah dibangun dengan gaya arsitek angkringan. Alasan Nanik, masakan Melayu ada angkringan juga. Sehingga dulu yang namanya Pondok Baung Asam Pedas , Nanik mengantinya dengan nama baru "Angringan Pondok Baung." 



Artikel Terbaru
rohil, Selasa, 14 Juli 2020

Kejaksaan Negeri (Kejari) Rokan Hilir (Rohil) laksanakan pemusnahan Barang Bukti (BB) tindak Pidana Umum.


pekanbaru, Selasa, 14 Juli 2020

Tak terima dibayar 'kencan tidur'  dengan uang palsu Rp850 ribu, RP alias Riau (33).


pekanbaru, Kamis, 9 Juli 2020

SKK Migas Perwakilan Sumbagut bersama KKKS wilayah Riau, Kamis (9/7/2020) menyerahkan ratusan paket.


pasar, Selasa, 7 Juli 2020

Pekan ini, Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit periode 8 – 14 Juli  di tingkat.


meranti, Selasa, 7 Juli 2020

Pesisir Pulau Rangsang, Kepulaun Meranti, Provinsi Riau, terjadi karhutla lagi. Titik api berada tidak.


nusantara, Selasa, 7 Juli 2020

Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) berdiri di saat dunia pers sedang risau dan galau hebat seiring.


olahraga, Senin, 6 Juli 2020

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Roni Rakhmat mengatakan penyelenggaraan Tour de Siak tahun ini.


wajah, Senin, 6 Juli 2020

Aktris Bolliwood, Priyanka Chopra terus melambungkan namanya di kancah film Hollywood. Kini, istri Nick.


hukum, Senin, 6 Juli 2020

Seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Bukit Tinggi, Sumatera Barat yang diduga mengendalikan.


hukum, Senin, 6 Juli 2020

Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau, Yan Prana Jaya Indra Rasyid, Senin (6/7), pukul.