27 Zulhijjah 1442 H / Jumat, 6 Agustus 2021
Jokowi Revisi Aturan PPnBM Mobil Listrik
pasar | Selasa, 6 Juli 2021
Editor : red | Penulis : PE*

Mobil listrik/int

JAKARTA -- Pemerintah mengubah aturan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) berupa kendaraan listrik. Hal itu dilakukan untuk mempercepat penurunan emisi gas buang.

Hal itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2021 tentang Perubahan atas PP 73/2019 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.

Beleid tersebut diteken Jokowi dan diundangkan pada 2 Juli 2021. Namun, aturan tersebut baru berlaku pada 16 Oktober 2021 mendatang.

"Untuk mendukung kebijakan pemerintah untuk mempercepat penurunan emisi gas buang yang bersumber dari kendaraan bermotor perlu dilakukan percepatan pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai dan ekosistemnya," kata Jokowi dalam poin pertimbangan PP74/2021, dikutip Selasa (6/7).

Dalam beleid tersebut, Jokowi melakukan penyesuaian aturan PPnBM untuk kendaraan plug-in hybrid electric vehicle dan hybrid elektric vehicle.

Sesuai Pasal 26 PP74/2021, dasar pengenaan PPnBM sebesar 15 persen untuk mobil listrik full hybrid berkapasitas silinder 3.000 cc naik dari 13 1/3 persen menjadi 40 persen dari harga jual.

Aturan itu berlaku untuk mobil berkapasitas silinder 3.000 cc yang mengkonsumsi bahan bakar minyak lebih dari 23 kilometer (km) per liter atau tingkat emisi karbondioksida (CO2) kurang dari 100 gram per km.

Selain itu, ketentuan juga berlaku untuk motor bakar nyala kompresi (diesel atau semi diesel) dengan konsumsi bahan bakar lebih dari 26 km per liter atau tingkat emisi CO2 kurang dari 100 gram per km.

Selanjutnya, Pasal 27 PP/74/2021 merevisi dasar pengenaan PPnBM sebesar 15 persen untuk mobil listrik full hybrid berkapasitas silinder 3.000 cc dari 33 1/3 persen menjadi 46 2/3 persen dari harga jual.

Kriteria berlaku untuk mobil berkapasitas silinder 3.000 cc yang mengkonsumsi bahan bakar minyak paling rendah 18,4 km sampai 23 km per liter atau tingkat emisi karbondioksida (CO2) mulai dari 100 gram hingga 125 gram per km.

Kemudian, perubahan juga dikenakan untuk motor bakar nyala kompresi (diesel atau semi diesel) dengan konsumsi bahan bakar 20 km sampai 26 km per liter atau tingkat emisi CO2 mulai dari 100 gram hingga 125 per km.

Jokowi juga mengubah Pasal 36 PP74/2021 di mana dasar pengenaan pajak sebesar 0 persen dari harga jual berlaku untuk kendaraan bermotor yang menggunakan teknologi battery electric vehicles atau fuel cell electric vehicles.

Tadinya, ada tambahan syarat berupa konsumsi bahan bakar setara dengan lebih dari 28 km per liter atau tingkat emisi CO2 sampai dengan 100 gram per km.

Berikutnya, pemerintah menyisipkan Pasal 36A yang mengatur PPnBM untuk kendaraan bermotor dengan teknologi plug-in hybrid electric vehicles dengan konsumsi bahan bakar lebih dari 28 km per liter atau tingkat emisi maksimal 100 gram per km. Dalam hal ini, dasar pengenaan PPnBM-nya adalah 33 1/3 persen dari harga jual.

Namun, sesuai Pasal 36B, dasar pengenaan pajak untuk kendaraan listrik tidak berlaku jika ada realisasi investasi paling sedikit Rp5 triliun pada industri kendaraan bermotor yang menggunakan teknologi baterai kendaraan listrik setelah 2 tahun investasi terealisasi.

Lalu, saat industri kendaraan bermotor yang menggunakan teknologi baterai kendaraan listrik mulai berproduksi komersial.



Artikel Terbaru
pelalawan | Kamis, 5 Agustus 2021

Bhabinkamtibmas Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota dan FIF Group, Kamis (5/8-2021) melakukan giat.


nusantara | Kamis, 5 Agustus 2021

Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat Firdaus optimistis tingkat kepercaayaan.


pasar | Kamis, 5 Agustus 2021

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.342 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada Kamis.


nusantara | Kamis, 5 Agustus 2021

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) sedang mengupayakan agar pencairan bantuan langsung tunai.


pekanbaru | Kamis, 5 Agustus 2021

Sebanyak 12 orang warga pendatang dinyatakan reaktif Covid-19 usai menjalani tes swab antigen.


kampar | Kamis, 5 Agustus 2021

Bupati Kampar H Catur Sugeng Susanto SH MH menerima tokoh masyarakat dari Desa Rantau Kasih.


riau | Kamis, 5 Agustus 2021

Danrem 031 Wira Bima, Brigjen TNI M Syech Ismed SE MHan terus menggesa pelaksanaan vaksinasi.


dumai | Kamis, 5 Agustus 2021

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Riau saat ini telah merampungkan.



bengkalis | Kamis, 5 Agustus 2021

Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkalis melakukan pemeriksaan dan pengambilan keterangan Manager.


Agu 2021
06

324 Suara Diperebutkan di Indragiri Hulu | Bukan Sekedar Gestur Politik | LCV Gathering Dipo Kumpul Bersama Konsumen Air Molek | PT SSL Salurkan Bantuan Pembangunan Mushala SMPN 2 Bangun Purba | Nol Kasus Covid-19, 13 Kelurahan Dinyatakan Zona Hijau | Jangan Asal Beli Mokas Suzuki Satria F-150, Sebaiknya Cek Part Ini | Kemenkes Ungkap Sebanyak 73.149 Anak Terpapar Covid-19 |

Mobil listrik/int

Jokowi Revisi Aturan PPnBM Mobil Listrik

pasar | Selasa, 6 Juli 2021
Editor : red | Penulis : PE*

JAKARTA -- Pemerintah mengubah aturan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) berupa kendaraan listrik. Hal itu dilakukan untuk mempercepat penurunan emisi gas buang.

Hal itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2021 tentang Perubahan atas PP 73/2019 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.

Beleid tersebut diteken Jokowi dan diundangkan pada 2 Juli 2021. Namun, aturan tersebut baru berlaku pada 16 Oktober 2021 mendatang.

"Untuk mendukung kebijakan pemerintah untuk mempercepat penurunan emisi gas buang yang bersumber dari kendaraan bermotor perlu dilakukan percepatan pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai dan ekosistemnya," kata Jokowi dalam poin pertimbangan PP74/2021, dikutip Selasa (6/7).

Dalam beleid tersebut, Jokowi melakukan penyesuaian aturan PPnBM untuk kendaraan plug-in hybrid electric vehicle dan hybrid elektric vehicle.

Sesuai Pasal 26 PP74/2021, dasar pengenaan PPnBM sebesar 15 persen untuk mobil listrik full hybrid berkapasitas silinder 3.000 cc naik dari 13 1/3 persen menjadi 40 persen dari harga jual.

Aturan itu berlaku untuk mobil berkapasitas silinder 3.000 cc yang mengkonsumsi bahan bakar minyak lebih dari 23 kilometer (km) per liter atau tingkat emisi karbondioksida (CO2) kurang dari 100 gram per km.

Selain itu, ketentuan juga berlaku untuk motor bakar nyala kompresi (diesel atau semi diesel) dengan konsumsi bahan bakar lebih dari 26 km per liter atau tingkat emisi CO2 kurang dari 100 gram per km.

Selanjutnya, Pasal 27 PP/74/2021 merevisi dasar pengenaan PPnBM sebesar 15 persen untuk mobil listrik full hybrid berkapasitas silinder 3.000 cc dari 33 1/3 persen menjadi 46 2/3 persen dari harga jual.

Kriteria berlaku untuk mobil berkapasitas silinder 3.000 cc yang mengkonsumsi bahan bakar minyak paling rendah 18,4 km sampai 23 km per liter atau tingkat emisi karbondioksida (CO2) mulai dari 100 gram hingga 125 gram per km.

Kemudian, perubahan juga dikenakan untuk motor bakar nyala kompresi (diesel atau semi diesel) dengan konsumsi bahan bakar 20 km sampai 26 km per liter atau tingkat emisi CO2 mulai dari 100 gram hingga 125 per km.

Jokowi juga mengubah Pasal 36 PP74/2021 di mana dasar pengenaan pajak sebesar 0 persen dari harga jual berlaku untuk kendaraan bermotor yang menggunakan teknologi battery electric vehicles atau fuel cell electric vehicles.

Tadinya, ada tambahan syarat berupa konsumsi bahan bakar setara dengan lebih dari 28 km per liter atau tingkat emisi CO2 sampai dengan 100 gram per km.

Berikutnya, pemerintah menyisipkan Pasal 36A yang mengatur PPnBM untuk kendaraan bermotor dengan teknologi plug-in hybrid electric vehicles dengan konsumsi bahan bakar lebih dari 28 km per liter atau tingkat emisi maksimal 100 gram per km. Dalam hal ini, dasar pengenaan PPnBM-nya adalah 33 1/3 persen dari harga jual.

Namun, sesuai Pasal 36B, dasar pengenaan pajak untuk kendaraan listrik tidak berlaku jika ada realisasi investasi paling sedikit Rp5 triliun pada industri kendaraan bermotor yang menggunakan teknologi baterai kendaraan listrik setelah 2 tahun investasi terealisasi.

Lalu, saat industri kendaraan bermotor yang menggunakan teknologi baterai kendaraan listrik mulai berproduksi komersial.


Artikel Terbaru

pelalawan | Kamis, 5 Agustus 2021

Bhabinkamtibmas Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota dan FIF Group, Kamis (5/8-2021) melakukan giat.


nusantara | Kamis, 5 Agustus 2021

Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat Firdaus optimistis tingkat kepercaayaan.


pasar | Kamis, 5 Agustus 2021

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.342 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada Kamis.


nusantara | Kamis, 5 Agustus 2021

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) sedang mengupayakan agar pencairan bantuan langsung tunai.


pekanbaru | Kamis, 5 Agustus 2021

Sebanyak 12 orang warga pendatang dinyatakan reaktif Covid-19 usai menjalani tes swab antigen.


kampar | Kamis, 5 Agustus 2021

Bupati Kampar H Catur Sugeng Susanto SH MH menerima tokoh masyarakat dari Desa Rantau Kasih.


riau | Kamis, 5 Agustus 2021

Danrem 031 Wira Bima, Brigjen TNI M Syech Ismed SE MHan terus menggesa pelaksanaan vaksinasi.


dumai | Kamis, 5 Agustus 2021

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Riau saat ini telah merampungkan.



bengkalis | Kamis, 5 Agustus 2021

Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkalis melakukan pemeriksaan dan pengambilan keterangan Manager.