28 Safar 1444 H / Minggu, 25 September 2022
Wajah
wajah
politikus
politik
pasar
hukum
nusatara
otomotif
Rendang Babi Bikin Ribut
opini | Senin, 27 Juni 2022
Editor : Lin | Penulis : Yoga Martilova, S.I.Kom
Ilustrasi: Rendang/int

BELUM lama ini, polemik atas kemunculan rendang non-halal dengan bahan dasar daging babi telah memicu polemik di tengah masyarakat.

Bermula saat sebuah akun Twitter dengan username @Hilmi28 mengunggah satu tangkapan layar dari sebuah toko online bernama Babiambo yang memiliki satu menu makanan khas Padang non-halal dan disertai dengan pernyataan singkat bentuk ketidaksetujuannya.

Hal tersebut kemudian diwarnai beragam perbedaan pendapat dan persepsi. Kemunculan rendang non-halal dinilai sangat kontradiksi  dengan ajaran Agama Islam yang mengharamkan daging babi. Hal ini turut mengundang reaksi dari Gubernur Sumatera Barat.

Dilansir dari Republika.co.id, Mahyeldi memberi kecaman atas munculnya rendang non-halal dari Babiambo lantaran sangat bertentangan dengan keteguhan prinsip dan falsafah minang yakni “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”. 

Mahyeldi menegaskan bahwa polemik ini seharusnya tidak terjadi karena sudah jelas bahwa seluruh masakan dengan penggunaan embel-embel Padang merupakan makanan halal.

Berbagai tanggapan berseberangan pun muncul lantaran menganggap masakan merupakan sesuatu yang sifatnya universal.Seperti salah seorang tokoh agama Gus Miftah yang ikut menanggapi isu ini dengan mempertanyakan “Sejak kapan rendang punya agama?” dan berujar bahwa isu ini tidak perlu dibersar-besarkan. 

Dari polemik diatas dapat dilihat bahwa terjadinya kekeliruan dan kegagalan persepsi akibat adanya asumsi dan pengharapan. Seperti perbedaan internalisasi dalam diri setiap orang untuk dapat memahami persepsi dari orang lain. Lalu upaya menggeneralisasikan individu lain berdasarkan informasi yang minim dan membentuk asumsi baru atas dasar identitas dan faktor internal seperti Agama, Ideologi dan Tingkat intelektualitas. 

Dan yang paling krusial adalah ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri (Personality mal-adjustment) atau Gegar Budaya. Melihat fakta bahwa akan hadir suatu efek yang kuat atas persepsi pada saat membentuk kesan mengenai suatu hal.

Maka kekeliruan dan kegagalan persepsi menjadi tanggungjawab setiap individu untuk dapat dihindari.Guna menjadi acuan, lewat bukunya yang berjudul Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Mulyana menyebut persepsi terikat oleh budaya (culture-bound). 

Menurutnya, dalam memaknai pesan, objek, atau lingkungan seseorang bergantung pada sistem nilai yang dianutnya. Hal tersebut membawa pengaruh pada terciptanya realitas seseorang dalam mengenali berbagai ransangan, agama, ideologi, dan tingkat intelektualitas.

Dengan adanya perbedaan kebudayaan yang dianut akan memberikan ruang guna terciptanya dua sisi persepsi yang berbeda. Sebagai implikasi dari sifat subjektif dari pembetukkan persepsi seseorang.

Sementara itu merujuk pemikiran Samovar dan Porter tentang adanya enam unsur budaya yang memiliki peran penting dalam mempengaruhi persepsi seseorang dalam proses komunikasi antara dua orang dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda yakni Kepercayaan (beliefs), Nilai (values), dan sikap (attitudes); Pandangan dunia (worldview); Organisasi sosial (social organization); Tabiat manusia (human nature); Orientasi kegiatan (activity orientation); dan Persepsi tentang diri dan orang lain (perception of self and others). 

Keenam unsur budaya diatas dapat menjadi acuan dalam memahami kepercayaan dan nilai yang dianut. Melihat sifat dari persepsi seseorang adalah subjektif serta nilai dan kepercayaan dalam menafsirkan suatu kebudayaan bersifat stabil.

Bentuk persepsi mencakup kegunaan dan kepuasan dari siapapun yang ingin menafsirkan sesuatu. Sebagai nilai yang biasanya bermuara pada isu filosofis. 

Maka, dengan melihat melihat latar terjadinya polemik ini adalah melalui media sosial -Twitter, maka perlu didukung pengembangan baik pengembangan kritis maupun partisipasi aktif, sehingga masyarakat Indonesia bukan hanya dapat menafsirkan berbagai informasi yang diperoleh, akan tetapi memampukan diri dalam menjadi produser media dengan caranya sendiri. Memilih informasi serta menyikapi dengan bijak.

 

Penulis: Yoga Martilova, S.I.Kom



Artikel Terbaru
Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Bakal Mengguyur Riau
Hari Ini, Satu Warga Pekanbaru Meninggal Dunia Akibat Covid-19
Capaian Vaksinasi II di Riau 70,92 %
PT Arara Abadi Kucurkan CSR Untuk masyarakat Konsesi Perusahaan
Membludak, Masyarakat Hadiri Launching Paket Umrah Sulthan Silversilk Group
×
Rendang Babi Bikin Ribut
opini | Senin, 27 Juni 2022
Editor : Lin | Penulis : Yoga Martilova, S.I.Kom
Ilustrasi: Rendang/int

BELUM lama ini, polemik atas kemunculan rendang non-halal dengan bahan dasar daging babi telah memicu polemik di tengah masyarakat.

Bermula saat sebuah akun Twitter dengan username @Hilmi28 mengunggah satu tangkapan layar dari sebuah toko online bernama Babiambo yang memiliki satu menu makanan khas Padang non-halal dan disertai dengan pernyataan singkat bentuk ketidaksetujuannya.

Hal tersebut kemudian diwarnai beragam perbedaan pendapat dan persepsi. Kemunculan rendang non-halal dinilai sangat kontradiksi  dengan ajaran Agama Islam yang mengharamkan daging babi. Hal ini turut mengundang reaksi dari Gubernur Sumatera Barat.

Dilansir dari Republika.co.id, Mahyeldi memberi kecaman atas munculnya rendang non-halal dari Babiambo lantaran sangat bertentangan dengan keteguhan prinsip dan falsafah minang yakni “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”. 

Mahyeldi menegaskan bahwa polemik ini seharusnya tidak terjadi karena sudah jelas bahwa seluruh masakan dengan penggunaan embel-embel Padang merupakan makanan halal.

Berbagai tanggapan berseberangan pun muncul lantaran menganggap masakan merupakan sesuatu yang sifatnya universal.Seperti salah seorang tokoh agama Gus Miftah yang ikut menanggapi isu ini dengan mempertanyakan “Sejak kapan rendang punya agama?” dan berujar bahwa isu ini tidak perlu dibersar-besarkan. 

Dari polemik diatas dapat dilihat bahwa terjadinya kekeliruan dan kegagalan persepsi akibat adanya asumsi dan pengharapan. Seperti perbedaan internalisasi dalam diri setiap orang untuk dapat memahami persepsi dari orang lain. Lalu upaya menggeneralisasikan individu lain berdasarkan informasi yang minim dan membentuk asumsi baru atas dasar identitas dan faktor internal seperti Agama, Ideologi dan Tingkat intelektualitas. 

Dan yang paling krusial adalah ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri (Personality mal-adjustment) atau Gegar Budaya. Melihat fakta bahwa akan hadir suatu efek yang kuat atas persepsi pada saat membentuk kesan mengenai suatu hal.

Maka kekeliruan dan kegagalan persepsi menjadi tanggungjawab setiap individu untuk dapat dihindari.Guna menjadi acuan, lewat bukunya yang berjudul Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Mulyana menyebut persepsi terikat oleh budaya (culture-bound). 

Menurutnya, dalam memaknai pesan, objek, atau lingkungan seseorang bergantung pada sistem nilai yang dianutnya. Hal tersebut membawa pengaruh pada terciptanya realitas seseorang dalam mengenali berbagai ransangan, agama, ideologi, dan tingkat intelektualitas.

Dengan adanya perbedaan kebudayaan yang dianut akan memberikan ruang guna terciptanya dua sisi persepsi yang berbeda. Sebagai implikasi dari sifat subjektif dari pembetukkan persepsi seseorang.

Sementara itu merujuk pemikiran Samovar dan Porter tentang adanya enam unsur budaya yang memiliki peran penting dalam mempengaruhi persepsi seseorang dalam proses komunikasi antara dua orang dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda yakni Kepercayaan (beliefs), Nilai (values), dan sikap (attitudes); Pandangan dunia (worldview); Organisasi sosial (social organization); Tabiat manusia (human nature); Orientasi kegiatan (activity orientation); dan Persepsi tentang diri dan orang lain (perception of self and others). 

Keenam unsur budaya diatas dapat menjadi acuan dalam memahami kepercayaan dan nilai yang dianut. Melihat sifat dari persepsi seseorang adalah subjektif serta nilai dan kepercayaan dalam menafsirkan suatu kebudayaan bersifat stabil.

Bentuk persepsi mencakup kegunaan dan kepuasan dari siapapun yang ingin menafsirkan sesuatu. Sebagai nilai yang biasanya bermuara pada isu filosofis. 

Maka, dengan melihat melihat latar terjadinya polemik ini adalah melalui media sosial -Twitter, maka perlu didukung pengembangan baik pengembangan kritis maupun partisipasi aktif, sehingga masyarakat Indonesia bukan hanya dapat menafsirkan berbagai informasi yang diperoleh, akan tetapi memampukan diri dalam menjadi produser media dengan caranya sendiri. Memilih informasi serta menyikapi dengan bijak.

 

Penulis: Yoga Martilova, S.I.Kom

riau | Sabtu, 24 September 2022
Capaian Vaksinasi II di Riau 70,92 %
Inspiratif
inspiratif | Sabtu, 17 September 2022
Cara Atasi Ketiak Bau, walau Sudah Pakai Deodoran
inspiratif | Sabtu, 17 September 2022
Ini Makanan Enak, tapi Berpotensi Sebabkan Usus Buntu

Wajah
wajah | Kamis, 18 Agustus 2022
Faisal Abdul Naser: Jangan Berbohong
wajah | Rabu, 12 Januari 2022
Pernah Depresi dan Berniat Bunuh Diri
Wanita
wanita | Jumat, 5 Agustus 2022
Istiqomah Bersama dan Bermanfaat buat Umat
wanita | Sabtu, 18 Juni 2022
Penyebab Bibir Merah Warnanya
wanita | Minggu, 24 April 2022
Tampil Cantik di Hari Idul Fitri
Berita Unggulan
pekanbaru | Senin, 19 September 2022
Pra UKW SPS-PWI Riau Disambut Antusias Peserta
Berita Pilihan
pelalawan | Selasa, 20 September 2022
BKPSDM Pelalawan Data Ulang Seluruh Tenaga Honorer