BANGKINANG-- Tradisi Aghi Ayo Onam atau Hari Raya Enam kembali menjadi ruang kebersamaan masyarakat Bangkinang dalam merawat nilai-nilai sosial dan budaya yang diwariskan turun-temurun. Melalui rangkaian ziarah makam, doa bersama, hingga makan bajambau, tradisi ini tidak hanya menjadi simbol penghormatan kepada leluhur, tetapi juga mempererat ikatan sosial antara masyarakat dan pemimpin daerah dalam suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.
Semangat pelestarian budaya lokal terlihat kuat dalam pelaksanaan tradisi Aghi Ayo Onam yang digelar di Bangkinang Seberang, pada Sabtu (28/3/2026). Bupati Kampar, H. Ahmad Yuzar, turut hadir dan memimpin langsung rangkaian ziarah ke sejumlah makam tokoh dan leluhur setempat. Kehadiran kepala daerah di tengah masyarakat bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi simbol kedekatan dan kepedulian terhadap akar budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Dengan menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor dan berjalan kaki bersama warga, suasana kebersamaan terasa begitu kental. Tidak ada jarak antara pemimpin dan masyarakat, semuanya menyatu dalam semangat menghormati leluhur dan memperkuat tali silaturahmi.
Tradisi ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah yang menunjukkan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya. Kehadiran mereka memperkuat pesan bahwa budaya lokal merupakan fondasi penting dalam membangun karakter dan identitas daerah.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama yang menjadi momen refleksi spiritual, sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Suasana khidmat berpadu dengan kehangatan interaksi antarwarga.
Puncak kebersamaan tercermin dalam tradisi makan bajambau, di mana masyarakat duduk bersama dan menikmati hidangan dalam satu wadah. Tradisi ini mengandung makna mendalam tentang kebersamaan, kesetaraan, dan rasa syukur.
Aghi Ayo Onam tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga ruang sosial yang memperkuat solidaritas, mempererat hubungan antarmasyarakat, serta menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya lokal. Dengan dukungan semua pihak, tradisi ini diharapkan terus hidup dan menjadi bagian penting dalam perjalanan budaya masyarakat Bangkinang di masa depan.(ADV)