|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Penulis : rls
Adhi melihat potensi besar yang bisa dikembangkan dari industri kertas, karena menurut laporan dari World Atlas, saat ini Indonesia telah menduduki peringkat ke-10 penghasil kertas terbesar di dunia. Jika Indonesia dapat terus mendorong inovasi dan angka produksi kertas tanpa mengabaikan praktik keberlanjutan dalam prosesnya, tentunya Indonesia dapat terus bersaing di pasar global.
"Kertas adalah komoditas ekspor nonmigas terbesar ketujuh bagi Indonesia. Indonesia tengah membutuhkan genjotan ekspor lantaran neraca perdagangan yang defisit, sedangkan isu lingkungan juga perlu menjadi perhatian," papar Adhi yang adalah seorang analis perbankan. "Kita harus bisa mengambil jalan tengah yang berimbang. Lingkungan harus lestari dan ekspor kertas harus tetap melaju," ujarnya.
"Lomba ini kami selenggarakan bersama dengan Qureta untuk mengetahui sejauh apa masyarakat paham dan peduli terhadap industri kertas yang berkelanjutan di Indonesia," ujar Direktur APP Sinar Mas Suhendra Wiriadinata. "Rasanya sudah tidak zaman jika menganggap kertas hanya sebagai medium bertukar informasi."
Sinar Mas Agribusiness and Food Buka Kesempatan 45 Lulusan SMU Raih Beasiswa
Sinar Mas Agribusiness and Food Nihil Bakar Selama Tahun 2021
"Kegunaan kertas telah bertransformasi, bahkan kertas merupakan bahan yang paling berpotensi untuk menggantikan pemakaian plastik. Lomba esai ini diharapkan dapat memberikan platform bagi para peserta untuk menuangkan pikiran dan pandangannya tentang salah satu industri terbesar di tanah air, serta membagikannya kepada masyarakat," tambahnya.
“Saya senang karena kualitas naskah yang masuk pada lomba kali ini lebih baik dari naskah-naskah sebelumnya. Para pesertanya juga sangat variatif, dari kalangan akademis, aktivis, hingga pelajar. Yang paling menggembirakan adalah bahwa pemahaman mereka terhadap industri kertas semakin positif. Beberapa naskah sangat layak dikembangkan menjadi karya tulis akademis atau bahkan buku,” ungkap CEO Qureta Luthfie Assyaukanie.