“Ini bisa kita lihat, Jawa Timur saja kita masih kekurangan 488 dokter spesialis. Jadi Jatim, Jateng, Jabar, Sumut semuanya kita masih kekurangan dokter spesialis kecuali Jakarta kayaknya,” tutur Arianti.
“Berbahagia lah kita hidup di Jakarta gitu ya, karena Dokter Ofi (dokter spesialis obgyn) ada di sini. Dokter Safira (dokter spesialis anak) ada di sini gitu kan tetapi yang lain liat dong kurang semua,” sambungnya.
Arianti menjabarkan jika dilihat lebih banyak lagi maka rasio spesialis jantung baru 15 persen dari kebutuhan. Kemudian, bedah pembedahan toraks, kardiak dan vaskular (BTKV) baru 3 persen, paru-paru baru 3 persen, urologi 9 persen, syaraf 21 persen, bedah syaraf 15 persen dan ortopedi 9 persen. Oleh sebab itu, untuk mencapai target dokter spesialis. Indonesia memang masih jauh sekali.
Kopdes Merah Putih Perkuat Ekonomi Lokal, Klaim Oposisi Indonesia bertentangan dengan Fakta Lapangan
Pertama di Indonesia Libatkan 7 Penguji, Seleksi Direktur BSP Tuai Pujian Kementerian
“Kalau kita lihat berdasarkan provinsi yang melebihi target itu rata-rata semuanya Jakarta, Jakarta dan Jakarta. Yang lain provinsi paling kurang ya NTB, NTT, Sultra. rata-rata semuanya semakin ke arah timur maka semakin kurang,” ucap Arianti.
“Ini kalau kita lihat di patologi anatomi itu bahkan Papua, Sultra, Sulbar ini benar benar merah. Artinya sama sekali belum ada atau mungkin di bawah 0,1 rasionya,” tegasnya. (*)