|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Penulis : Editor
JAKARTA - Biro Statistik Nasional Prancis, INSEE, baru-baru ini merilis data terbaru mengenai kenaikan harga makanan dan minuman di supermarket-supermarket di Prancis. Data tersebut menunjukkan adanya kenaikan sebesar 13,1 persen secara tahunan pada bulan Juli 2023. Kenaikan harga juga terjadi pada sektor daging dan minuman.
Dalam data yang diterbitkan, terungkap bahwa harga daging mengalami kenaikan hingga 11,3 persen, sementara harga minuman naik sebesar 10,1 persen. Tidak hanya itu, produk makanan lainnya juga mengalami kenaikan harga hingga mencapai 15 persen. Sementara itu, produk-produk pembersih rumah dan kebersihan tubuh juga mengalami kenaikan sebesar 9,4 persen.
Bulan sebelumnya, inflasi tahunan rata-rata di Prancis mencapai 4,3 persen, mengalami penurunan dibandingkan angka inflasi pada bulan Juli 2023 yang sebesar 4,5 persen. Walaupun terjadi penurunan, angka inflasi tersebut masih sejalan dengan prediksi dan merupakan angka terendah sejak Februari 2022. Penurunan inflasi ini terutama disebabkan oleh harga energi yang menurun dan kenaikan harga makanan serta produk manufaktur yang lebih moderat.
Harga Ayam Potong di Pekanbaru Naik Drastis Tembus Rp37 Ribu per Kg
Pedagang Pusing Penjualan Mobil Bekas 2025 Anjlok, Lebih Buruk dari Masa Pandemi
Tidak lama setelahnya, Pemerintah Prancis mengajukan anggaran pengeluaran negara kepada parlemen. Anggaran tersebut mengamanatkan pemangkasan sebesar 4,2 miliar euro (setara dengan sekitar Rp 70 triliun). Ini merupakan pemangkasan anggaran terbesar dalam hampir 10 tahun terakhir. Langkah ini diambil guna menjaga keseimbangan anggaran dan mengatasi kondisi ekonomi saat ini.
Pada tahun 2024, Pemerintah Paris merencanakan alokasi anggaran pengeluaran sebesar 428,8 miliar euro (setara dengan Rp 7.186 triliun). Selain itu, mereka juga memiliki target untuk mengurangi defisit anggaran menjadi 4,4 persen dari Produk Domestik Bruto (GDP) pada tahun 2024. Hal ini menunjukkan penurunan dari angka sebesar 4,9 persen pada tahun sebelumnya. Pemerintah Prancis berkomitmen untuk mencapai defisit anggaran di bawah 3 persen, sesuai dengan ketentuan Uni Eropa, sebelum berakhirnya periode kedua kepemimpinan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada tahun 2027.