|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
JAKARTA - TikTok Shop, salah satu layanan e-commerce yang dikeluarkan oleh TikTok Indonesia, akhirnya ditutup pada Rabu (4/10) sebagai respons terhadap regulasi baru yang mengatur media sosial dalam transaksi jual beli online. Keputusan ini menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan masyarakat, karena sebelumnya TikTok Shop telah menjadi platform yang populer dengan peningkatan penggunaan yang signifikan.
TikTok Shop diperkenalkan di Indonesia kurang dari tiga tahun yang lalu dan dalam waktu singkat berhasil mengumpulkan transaksi senilai hampir 2,6 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya, menurut laporan dari lembaga riset Momentum Works. Meskipun sukses dari perspektif pertumbuhan ekonomi digital, hal ini menciptakan kekhawatiran di kalangan pedagang konvensional yang mengalami penurunan penjualan.
Respon terhadap keluhan ini datang dari pemerintah, yang kemudian merilis aturan baru yang mengharuskan pemisahan antara bisnis media sosial dan layanan marketplace. TikTok menjadi salah satu platform yang terkena dampaknya, dan aturan ini mulai berlaku pada 26 September 2023. TikTok merespons dengan menutup layanan transaksi e-commerce pada Rabu pukul 17.00 WIB sebagai bentuk ketaatan terhadap aturan tersebut, dan mereka menyatakan niat untuk berkoordinasi lebih lanjut dengan pemerintah Indonesia.
Setelah ‘Dirujak’ Netizen, Endipat Akhirnya Minta Maaf ke Ferry Irwandi
PBNU Umumkan Berakhirnya Masa Jabatan Gus Yahya, Kepemimpinan Dialihkan ke Rais Aam
Meskipun penutupan TikTok Shop sudah resmi dilakukan pada Rabu sore, pemesanan yang sudah dibayar sebelum pukul 17.00 WIB tetap akan diproses.
Keputusan ini mengecewakan banyak pedagang, terutama mereka yang menjual pakaian dan makanan melalui TikTok Shop. Mereka khawatir bahwa penutupan ini akan mengganggu usaha kecil mereka yang sedang tumbuh. Di sisi lain, beberapa pedagang seperti Asih, yang berjualan pakaian wanita Muslim di Pasar Tanah Abang, menganggap penutupan TikTok Shop sebagai hal yang positif. Baginya, aplikasi belanja online seperti TikTok Shop telah mengurangi pembeli yang datang ke Pasar Tanah Abang, sehingga pendapatan harian yang pernah mencapai Rp10 juta, kini hanya sekitar Rp1 juta.
Namun, penutupan TikTok Shop juga mengancam pekerjaan banyak anak muda yang menjadi host siaran langsung dan afiliator di platform ini. Mereka menghadapi ketidakpastian terkait masa depan mereka dan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) mendadak.
Akhirnya Mantan Menteri Era Jokowi, Gus Yaqut Diperiksa KPK
Akhirnya! Warga Laporkan Jufrizal ke Bawaslu, Serahkan Bukti Uang Rp32 Juta Pemberiannya
Hingga saat ini, pihak TikTok Indonesia belum memberikan informasi resmi mengenai rencana bisnis e-commerce mereka ke depannya.
Sebagai tanggapan terhadap penutupan TikTok Shop, Nailul Huda, seorang peneliti ekonomi digital dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengungkapkan bahwa penjualan pedagang konvensional, termasuk di Pasar Tanah Abang, tidak kemungkinan akan segera pulih. Sebagian besar pembeli diperkirakan akan beralih ke platform e-commerce lain. Dia juga mencatat bahwa penurunan penjualan di Tanah Abang bukan hanya disebabkan oleh e-commerce, tetapi juga oleh faktor-faktor lain.
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, Teten Masduki, memberikan asuransi bahwa penutupan TikTok Shop tidak akan terlalu mengganggu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan di TikTok. Hal ini karena layanan media sosial TikTok masih aktif dan dapat digunakan untuk promosi, sementara transaksi dapat dialihkan ke platform lain.
19 Tahun Buron, Mantan Dirut PT Siak Zamrud Pusako Nader Thaher Akhirnya Ditangkap
Rayakan Hari Pahlawan, Tokopedia dan ShopTokopedia Berikan Panggung Bagi UMKM sebagai Pahlawan Ekonomi
Sumber: Antaranews