|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Deslina | Penulis : PE*
SIAK – Sistem pemantauan tinggi muka air gambut berbasis Internet of Things (IoT) menjadi salah satu inovasi terbaik dalam Siak Innovation Challenge 2025.
Inovasi bernama Peatronics IoT ini hasil pengembangan tiga mahasiswa Politeknik Caltex Riau: Aris Saputra Pasaribu, Artika Azzarah Ahmad, dan Amanda Putri Kinanti.
Tim Peatronics menggunakan sensor ketinggian air untuk memantau kondisi gambut, lalu mengirimkan data secara real-time melalui jaringan nirkabel LoRa yang hemat energi dan mampu menjangkau wilayah terpencil. Hasil pemantauan ditampilkan pada web dashboard dalam status aman, waspada, atau kering, serta memberi peringatan dini jika permukaan air turun di bawah batas aman.
“Teknologi ini dapat menjangkau area yang sangat jauh, dan cocok digunakan di wilayah terpencil. Peatronics membantu mencegah kebakaran, menjaga kelembaban gambut, serta meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat,” ujar Aris Saputra Pasaribu, pada Selasa malam (18/11/2025).
Ia menambahkan bahwa sistem ini muncul dari kebutuhan mitigasi kebakaran, mengingat Kabupaten Siak pernah mengalami kebakaran besar pada 2014.
Sebanyak 57% wilayah Kabupaten Siak berupa lahan gambut, dengan 21% di antaranya merupakan gambut dalam yang menyimpan cadangan karbon besar. Kondisi ini menjadikan pemantauan gambut sebagai bagian penting dari upaya pencegahan kebakaran.
“Saya sangat senang, alhamdulillah bisa mendapat penghargaan inovasi terbaik. Harapannya penelitian awal ini bisa dilanjutkan dan digunakan,” kata Artika tentang pengalaman mereka mengikuti kompetisi.
Siak Innovation Challenge dan Festival Inovasi Lestari
Kolaborasi PT Arara Abadi, Universitas Riau dan Media Lakukan Mitigasi dan Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan
Cegah Keracunan! TNI Kawal Ketat Program Makan Bergizi Gratis
Siak Innovation Challenge 2025 merupakan bagian dari Festival Inovasi Lestari yang berlangsung pada 16–18 November 2025 di Gedung Kesenian Siak. Festival ini memadukan berbagai kegiatan, mulai dari eksibisi ramah gambut, pameran hilirisasi produk, pasar UMKM, talkshow, hingga pertunjukan seni.
Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, dalam pembukaan acara menyampaikan, “Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, memperkuat perekonomian lokal, serta mempercepat transformasi menuju Siak sebagai kabupaten hijau yang tangguh dan berdaya saing.”
Pada saat pengumuman pemenang, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Siak, Budhi Yuwono, menyampaikan “apresiasi yang setinggi-tingginya, dan menyemangati, membersamai orang-orang muda untuk terus berkreasi, berinovasi untuk bumi yang lestari.”
Tahun ini, 94 ide masuk tahap kurasi awal. Setelah disaring, 20 ide mengikuti wawancara, dan 10 tim terpilih mempresentasikan hasil pengembangan mereka di hadapan lebih dari 30 mitra yang berpotensi mendukung kolaborasi lanjutan.
Dua Inovasi Lain Peraih Penghargaan
Selain Peatronics, dua inovasi lain juga menjadi inovasi terbaik dalam ajang ini.Yang pertama adalah Mangalo FortiRice, inovasi pangan berkelanjutan berupa beras analog berbasis singkong yang difortifikasi dengan tepung bonggol pisang. Inovasi ini menawarkan alternatif pangan rendah gula, memanfaatkan limbah pertanian, serta mengangkat pangan lokal suku Sakai.
Fortifikasi bonggol pisang dapat meningkatkan kandungan mineral dan antioksidan alami. Tim pengembang yang terdiri dari Lady Asia, Fahira Anggraini, dan Rahyu Zulaika, berharap inovasi tersebut dapat memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi petani singkong dan pisang.
Yang kedua adalah inovasi dari kelompok Archiscape, berupa konsep wisata aroma Siak dengan tema Harmoni Aroma Melayu. Konsep ini mengangkat kekayaan bunga herbal Riau melalui wisata tematik edukatif yang berakar pada budaya Melayu Siak. Tim yang terdiri dari Remiya Samantha, Doksa Safira Tarigan, dan Melly Erviani, memandang pendekatan ini sebagai strategi pelestarian budaya sekaligus peluang keterlibatan UMKM dan masyarakat dalam ekonomi berbasis lahan gambut.
Peran Komunitas dan Ruang Kreatif Lokal
Gerakan inovasi di Siak turut diperkuat komunitas seperti Haha Hihi Media dan Exploresiak. Keduanya berawal dari inisiatif anak muda yang menceritakan Siak melalui platform digital, kemudian berkembang menjadi ruang kolaborasi yang fokus pada isu keberlanjutan, ekonomi kreatif, dan pendampingan UMKM.
Selama lima tahun terakhir, mereka aktif menghadirkan event bertema lingkungan, memproduksi konten sosial, serta membantu UMKM melakukan rebranding dan digitalisasi.
Ekosistem ini semakin diperkuat oleh SKELAS (Sentra Kreatif Lestari Siak), pusat pengembangan UMKM yang sejak 2021 telah mendampingi lebih dari 30 pelaku usaha melalui inkubasi bisnis, lokakarya, dan pendampingan. Program-programnya banyak melibatkan anak muda, sehingga SKELAS menjadi jembatan antara komunitas, dunia usaha, dan pemerintah.
Di tengah berkembangnya ekonomi lestari di Siak, sejumlah usaha lokal turut mencuri perhatian. PT Alam Siak Lestari (ASL) mengembangkan berbagai produk turunan dari ikan gabus, nanas, lebah, hingga material komposit berbahan pelepah sawit.
Perusahaan ini memberdayakan pemuda lokal dan keluarga penjaga gambut, serta menjalin kerja sama dengan berbagai desa di Siak.
Sementara itu, Pinaloka digerakkan oleh perempuan dan anak muda dengan fokus pada pengolahan nanas kelas B dan C menjadi produk bernilai tambah seperti selai dan minuman. Usaha ini menciptakan lapangan kerja, membangun kemitraan dengan petani, dan berkolaborasi dengan lembaga nasional untuk meningkatkan kualitas produk serta memperluas pasar.
Perlunya Kolaborasi Menuju Siak yang Berkelanjutan
Siak adalah wilayah yang berakar pada kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura dan dikelilingi oleh bentang gambut yang luas. Setelah resmi menjadi kabupaten pada 1999, Siak menghadapi sejumlah tantangan—termasuk kebakaran hebat pada 2014—yang kemudian menjadi momen penting untuk menata ulang cara mengelola sumber daya alam.
Dari pengalaman itu, muncul dorongan bersama untuk membangun masa depan yang lebih hijau dan tahan terhadap krisis lingkungan.
Inisiatif Festival Inovasi Lestari menunjukkan pembangunan di Siak membutuhkan kolaborasi banyak pihak—mulai dari komunitas, pelaku usaha, UMKM, akademisi, generasi muda, hingga pemerintah daerah.
Panglima TNI Ingatkan Penggunaan Strobo dan Sirene Sesuai Aturan
Kebakaran di Pekanbaru Hanguskan Satu Rumah dan Enam Kios
Tantangan lingkungan dan pembangunan yang kompleks tidak dapat ditangani oleh satu lembaga saja, sehingga keterlibatan berbagai kelompok menjadi kunci untuk membentuk ekosistem inovasi yang tumbuh dari banyak arah: dari laboratorium riset, ruang belajar, kebun dan kelompok tani, hingga ruang kreatif dan platform digital.
Berangkat dari nilai budaya Melayu yang menekankan harmoni dan kebersamaan, upaya menuju lingkungan yang lebih lestari membutuhkan partisipasi luas dan berkelanjutan. Media, akademisi, pelaku usaha, komunitas, serta masyarakat umum memiliki peran penting untuk saling melengkapi dan memperkuat langkah bersama menuju Siak yang lebih hijau dan berkelanjutan.***