|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Red
TEHERAN - Pemerintah Amerika Serikat meminta warganya yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut melalui jalur darat, di tengah meningkatnya aksi protes dan situasi keamanan yang memburuk. Seruan itu disampaikan bersamaan dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang kembali membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap Teheran.
Dalam pernyataan resmi Kedutaan Besar AS di Teheran pada Selasa (14/1/2026), warga negara AS diminta segera keluar dari Iran dan disarankan mempertimbangkan rute darat menuju Turki atau Armenia apabila dinilai aman.
“Warga Amerika harus segera meninggalkan Iran. Kami menyarankan untuk mempertimbangkan jalur darat menuju Turki atau Armenia jika memungkinkan,” demikian isi imbauan tersebut.
Iran Siap Menghancurkan! AS Diperingatkan: Serang, Kami Balas Tanpa Ampun
Trump Nyentil, Clooney Pindah Warga Negara
Iran saat ini menghadapi gelombang demonstrasi antarpemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintahan Trump masih menimbang langkah lanjutan untuk merespons perkembangan situasi di negara itu.
Trump menyampaikan bahwa dirinya akan kembali ke Gedung Putih untuk membahas kondisi Iran secara keseluruhan. Ia menyebut situasi di sana “sangat buruk” dan menyatakan keprihatinan atas jatuhnya korban jiwa dalam aksi protes.
Menurut Trump, ia berharap rakyat Iran memperoleh kebebasan dan tidak menjadi korban kekerasan. Ia juga menyampaikan harapan agar pimpinan Iran menunjukkan sikap kemanusiaan dalam merespons gelombang unjuk rasa.
Pejabat Gedung Putih yang dikutip NBC News menyebut seluruh opsi masih terbuka bagi presiden dalam menentukan langkah berikutnya. Sementara itu, sumber yang dikutip Washington Post menyatakan Dewan Keamanan Nasional AS telah menggelar rapat untuk menyusun pilihan kebijakan.
Di sisi lain, Senator Bernie Sanders menegaskan bahwa intervensi militer bukan solusi bagi situasi di Iran. Ia menyerukan dukungan terhadap aspirasi masyarakat Iran tanpa menggunakan kekuatan senjata, mengingat pengalaman intervensi militer di masa lalu dinilai tidak berhasil.
Aksi protes di Iran telah memasuki pekan ketiga, dipicu penurunan nilai mata uang dan daya beli masyarakat. Laporan lembaga independen HAM Iran, Hrana, menyebut jumlah korban tewas mencapai ratusan orang, meski angka tersebut belum diakui otoritas setempat.
ASN Riau Siap Tampil Perkasa di PORNAS XVII 2025, Target Medali Tinggi!
DPR Resmi Larang Menteri Rangkap Jabatan di BUMN, Kementerian BUMN Siap Turun Status!
Misi Iran untuk PBB menuduh Washington mendorong destabilisasi dan mengancam kedaulatan negara itu. Mereka menilai sanksi dan tekanan dijadikan pembenaran bagi kemungkinan intervensi militer. Pemerintah Iran menyatakan rakyat akan mempertahankan negara mereka dan menilai strategi Washington akan kembali gagal.
Duta Besar Iran untuk PBB juga menyebut Washington dan Israel bertanggung jawab atas jatuhnya korban sipil selama gelombang protes, serta meminta kedua pihak menghentikan kebijakan yang dinilai bertentangan dengan hukum internasional. *