Aghi Ayo Onam tidak hanya sekadar ritual penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal, tetapi juga sebagai momen refleksi untuk mempererat ikatan sosial dalam masyarakat. Dalam rangkaian acara yang berlangsung, masyarakat dan pejabat bersama-sama melakukan doa bersama di Masjid Al Mujahidin, Dusun Uwai, yang menandai berakhirnya kegiatan tersebut.
Acara ditutup dengan makan bajambau, tradisi makan bersama dalam satu wadah sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur. Tradisi ini tidak hanya bertujuan untuk merayakan Hari Raya Enam, tetapi juga mengukuhkan nilai sosial yang penting, seperti solidaritas dan rasa kepedulian di antara sesama.
Pentingnya Pelestarian Tradisi
Robi Junipa Terpilih Pimpin BSP, Bupati Siak Sebut Keputusan Berdasarkan Proses Transparan dan Profesional
Bersama SKK Migas dan BPKP, Penentuan Direktur BSP Kini di Tangan Bupati Siak
Meskipun tradisi Aghi Ayo Onam sudah dilaksanakan setiap tahun, keberlanjutannya memerlukan perhatian lebih dari semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat. Dengan adanya dukungan langsung dari Bupati Kampar dan pejabat lainnya, acara ini berhasil mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat, serta menunjukkan bahwa pemimpin daerah peduli terhadap nilai-nilai sosial dan budaya yang ada di tengah masyarakat.
Ke depan, tradisi ini diperkirakan akan terus menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Bangkinang, mengingat pentingnya menjaga warisan budaya lokal yang berperan dalam membangun identitas daerah.