Pada awal implementasi, respons pasar cukup positif. Nilai lelang SRBI pada Februari sempat melampaui Rp 16 triliun per sesi. Namun, minat investor menurun pada Maret dengan rata-rata hanya Rp 4,37 triliun.
Memasuki April, kondisi mulai membaik. Kenaikan imbal hasil menjadi faktor pendorong utama. Dalam lelang terakhir pada 10 April 2026, yield SRBI tenor enam bulan mencapai 5,49%, tertinggi sejak Agustus 2025. Tingkat imbal hasil ini diharapkan mampu menarik kembali minat investor di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, penguatan peran SRBI juga dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan pada intervensi langsung di pasar valuta asing. Cadangan devisa Indonesia diketahui mengalami penurunan signifikan. Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa turun sebesar US$ 8,3 miliar dari posisi akhir tahun sebelumnya yang mencapai US$ 156,5 miliar.
Santunan Ramadan di Siak Tembus Rp2,7 Miliar, Hadirkan Kebahagiaan Bagi Guru Ngaji hingga Penggali Kubur
Nilai Tukar Rupiah Menguat Rp16.802
Ekonom menilai kombinasi peningkatan frekuensi lelang dan kenaikan yield merupakan sinyal kuat untuk menjaga daya tarik pasar domestik. Jika kebijakan ini mampu menahan arus keluar modal dan meredam volatilitas, risiko pasar dapat ditekan.
Meski demikian, strategi ini memiliki konsekuensi biaya. Untuk menjaga minat investor, BI harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. Perkiraan menunjukkan biaya yang dikeluarkan berkisar Rp 6,2 triliun hingga Rp 8,4 triliun per tahun.