Paris - Perekrutan mata-mata di dalam Iran oleh badan intelijen Israel, Mossad, bukanlah operasi yang berlangsung cepat atau sederhana. Ia berjalan dalam senyap, sering kali tanpa jejak yang kasatmata, dan dalam banyak kasus bahkan tanpa disadari oleh mereka yang direkrut.
Laporan jurnalis Prancis Alexandra Saviana di majalah L’Express mengungkap sebuah gambaran yang jarang terlihat ke permukaan: bahwa keberhasilan operasi intelijen Israel di Iran bertumpu pada kerja panjang bertahun-tahun, menggabungkan kecermatan membaca manusia dengan pemanfaatan teknologi mutakhir.
Dalam lanskap keamanan yang ketat seperti Iran, pendekatan langsung hampir mustahil dilakukan. Karena itu, Mossad membangun strateginya secara perlahan. Mereka tidak sekadar mencari agen, melainkan menumbuhkan kondisi yang memungkinkan seseorang pada akhirnya bersedia-atau terpaksa—bekerja sama.
Ratusan Warga Korban Kebakaran di Pulau Kijang Terima Bantuan Sembako dari BPBD Inhil
PT. BSP Raih Penghargaan Mitra Zakat Perusahaan Terbaik dari Baznas Siak
Prosesnya kerap dimulai dari pengamatan yang nyaris tak terlihat. Individu-individu dipetakan berdasarkan latar belakang sosial, posisi pekerjaan, hingga kecenderungan politik dan psikologis. Mereka yang menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan terhadap pemerintah, mengalami tekanan ekonomi, atau berada dalam posisi rentan, masuk dalam radar.
Dalam sejumlah kasus, perhatian diarahkan pada kelompok minoritas atau mereka yang pernah terlibat dalam gelombang protes. Namun sasaran tidak berhenti di sana. Aparat negara, ilmuwan, hingga individu yang berada di lingkaran strategis juga menjadi target, terutama jika mereka menyimpan kekecewaan atau ambisi yang terhambat.