|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
“Luas lahan terbakar sudah mencapai 20 Ha Pak. Petugas gabungan sudah 10 hari melakukan upaya pemadaman dengan berbagai cara, termasuk mengerahkan alat berat untuk membuat kanal untuk membatasi api tidak meluas sekaligus mengalirkan sumber air, membuat embung, serta mengerahkan water bombing” kata Budhi Yuwono kepada Brigjen Nasri.
Selain itu kata Budhi, sosialisasi dan pemasangan spanduk peringatan karhutla juga sudah dilakukan, disamping sejumlah upaya seperti sekat kanal dan membagi zonasi daerah rawan karhutla di Negeri Istana menjadi enam cluster yang menjadi andalan strategi mewujudkan Siak Hijau juga sudah dilakukan, namun titik hotspot masih saja dijumpai meski belum separah kejadian beberapa tahun lalu.
Saat melakukan peninjauan lapangan, Direktur Samapta yang hadir untuk meninjau langsung upaya pemadaman serta memantau kendala petugas gabungan dilapangan. Ia menyebut fenomena anomali iklim akibat Siklus El Nina yang perkiraan puncaknya akan terjadi pada tahun 2020 mendatang perlu menjadi perhatian bersama, termasuk pemangku kepentingan dan masyarakat didaerah rawan karhutla.
Usai Dilantik, Satgas Pramuka Peduli Kwarcab Pekanbaru Bergerak Galang Bantuan Bencana Sumatera
Pastikan Ketersedian Air ke Sawah Warga, Bupati Afni Bentuk Satgas Bersama
“Kami baru saja bersama instansi terkait dan masyarakat memonitor titik hotspot yang cukup luas dan sedang diupayakan langkah pemadaman. Kita doakan agar dalam waktu yang singkat bisa dipadamkan oleh tim gabungan, saya yakin dengan semangat yang ditunjukkan akan bisa dipadamkan” kata Brigjen Pol M. Nasir.
Ia juga mengajak masyarakat yang berdomilisi disekitar perkebunan untuk berperan aktif bersama-sama mengawasi lingkungan agar kejadian karhutla tidak lagi terjadi, karena dampak negatifnya kata dia turut mempengaruhi aspek sosial budaya, kesehatan dan keamanan.