|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Putrajaya | Penulis : Republika
JAKARTA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) optimis tingkat hunian hotel berbintang di kisaran 83 juta orang pada 2023. Hal ini didasarkan kepada tren positif beberapa bulan terakhir, terlebih setelah pemerintah mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
“Trennya terus naik khususnya tamu domestik. Pencapaian (okupansi hotel berbintang) kita di 2022 mencapai 70% dari 2019. Maka itu tahun ini sangat mungkin bisa sama dengan 2019 karena semua berangsur pulih,” jelas Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani di Jakarta, Minggu (12/2/2023).
Dia menjelaskan tingkat hunian hotel berbintang pada 2023 bisa lebih tinggi dari sekitar 83 juta orang. Namun itu sangat tergantung kenaikan angka kunjungan wisatawan asing. Akibat amuk pandemi Covid-19, tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia merosot drastis dari 16,11 juta orang pada 2019 menjadi hanya 4,02 juta orang pada 2020; 1,65 juta orang pada 2021; dan sekitar 4,5 juta orang pada 2022.
”Kalau angkanya memang naik, tentu tingkat hunian hotel juga naik. Saya optimistis bisa lebih dari 7,4 juta orang apalagi banyak negara sudah kembali membuka lalu lintas pergerakan internasionalnya termasuk China,” tutur Hariyadi.
PHRI Singgung soal Utang
Selain soal peningkatan Okupansi Hotel, Hariyadi Sukamdani juga menyinggung soal sulitnya pemilik hotel untuk mencicil utang dan menutupi kerugian saat pandemi Covid-19.
“Rasio utang saat pandemi dengan cashflow-nya tidak menutupi. Jadi banyak yang memilih menjual hotel mereka,” kata Hariyadi.
Asian Agri - Apical Optimistis Capai Target Hijau Sebelum 2030
Rasa Dapat 'Vitamin' dari PWI Jatim, Zulmansyah Sekedang Makin Optimistis Maju Ketum PWI Pusat
Menurutnya, saat ini minat investor untuk membeli hotel relatif rendah. Di mana pemilik modal lebih tertarik menanamkan dana mereka ke industri padat modal.
“Tidak banyak juga yang mau beli. Investor lebih berminat ke pembangunan seperti smelter atau industri lainnya yang punya nilai tambah tinggi,” tuturnya. (*)