|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Putrajaya | Penulis : Beritasatu
JAKARTA - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dinilai terlalu powerful dan mendominasi praktik kedokteran di Indonesia sebagai salah satu organisasi profesi kedokteran berdasarkan UU Kesehatan yang lama.
Menanggapi hal tersebut, pemerhati pendidikan kedokteran dan pelayanan kesehatan, Dokter Judilherry Justam buka suara. Bagi Judilherry ada beberapa hal yang perlu direformasi untuk mengakhiri dominasi IDI dalam praktik kedokteran di Tanah Air.
Pertama, katanya, IDI tidak boleh menjadi organisasi profesi tunggal. Kedua, Kolegium kedokteran harus terpisah dari IDI.
Keterikatan Emosional, Indosat Berikan Ketulusan Tanpa Akhir di Harpelnas 2023
Anis Fauzan SH, Merangkai Ikatan Batin, Pilih Maju di Dapil Daerah Kelahiran
"Kolegium kedokteran harus diawasi oleh KKI atau Konsil Kedokteran Indonesia," kata Judilherry dalam keterangannya kepada Beritasatu.com, Rabu (29/3/2023) petang, seperti dikutip beritasatu.
Ketiga, anggota KKI harus dipilih oleh panitia seleksi independen yang dibentuk menteri kesehatan atau presiden seperti KPK, KPU, Komisi Yudisial dan lain-lain. Keempat, Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB) tidak boleh diselenggarakan, diakreditasi dan dinilai oleh IDI sendiri.