|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Putrajaya | Penulis : Viv
"Kita sarankan perlu peran serta peternak kerbau, terutama dalam memberikan perhatian dan perlindungan kepada ternaknya, yaitu dalam bentuk pemberian vaksinasi dan melakukan pengamatan terhadap ternaknya, sehingga jika ada kasus baru, bisa segera ditangani, sehingga tidak meluas ke ternak lainnya," paparnya.
Peternak wilayah lain yang belum terserang sapi ngorok, kata Fara juga diminta waspada, jangan tergiur dengan adanya kerbau yang dijual dengan harga murah, kemungkinan besar itu adalah ternak yang sudah berpenyakit, yang berpotensi membawa penyakit ke ternak.
"Walaupun sudah disarankan untuk tidak menjual ternak yang berada di lokasi kasus, tapi masih saja ada ternak yang diperjualbelikan oleh pedagang, ke wilayah lainnya. Ini yang menyebabkan penyakit hewan berpindah-pindah," tukasnya.
Ditemukan Dua Kasus Ternak Terjangkit Penyakit Mulut dan Kaki di Kampar
Investigasi Dinas Peternakan dan PKH Riau, Kematian Kerbau Bukan Penyakit Ngorok
Diberitakan sebelumnya, Dinas Peternakan dan Kesehatan (PKH) Provinsi Riau telah mendapat laporan terkait banyaknya kerbau mati mendadak di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), yang diduga terpapar penyakit ngorok.
"Kita baru mendapat laporan dari Dinas Peternakan Kuansing, kerbau yang mati jadi bangkai ada 8 ekor. Sedangkan mati dipotong paksa ada 100 ekor lebih," kata Kepala PKH Riau, Herman, Senin (8/5).