|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Putrajaya | Penulis : Viv
PEKANBARU - Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau, drh Faralinda Sari, mengatakan, kasus sapi ngorok atau Septicaemia Epizootica (SE) di Provinsi Riau sudah menyebar di berapa daerah.
Kampar menjadi kasus dengan jumlah terbanyak, kemudian Pangkalan Kerinci- Pelalawan, Bathin Solapan (Bengkalis) dan Tanjung Pauh (Kuansing).
Fara mengatakan, mengingat Provinsi Riau sudah menjadi daerah endemik penyakit SE, yang akan timbul ketika situasi hujan, tidak ada hal lain yang harus dilakukan kecuali vaksinasi.
Ditemukan Dua Kasus Ternak Terjangkit Penyakit Mulut dan Kaki di Kampar
Investigasi Dinas Peternakan dan PKH Riau, Kematian Kerbau Bukan Penyakit Ngorok
"SE bisa diobati, namun biasanya kurang efektif, karena pola pemeliharaan kerbau yang diliarkan, peternak baru mengetahui ternaknya tertular SE di tahap sudah parah, sehingga terlambat untuk dilakukan pengobatan. Jika fase penyakit belum parah, ternak bisa diobati dan dapat sembuh dari SE," kata Fara kepada wartawan.
Pihaknya melihat, kata Fara, faktor pemeliharaan yang diliarkan jadi peternak sulit untuk melakukan handling/mengumpulkan ternak kerbau untuk dapat dilakukan vaksinasi, padahal pihak Satgas sudah ready dengan vaksin.
"Kita sarankan perlu peran serta peternak kerbau, terutama dalam memberikan perhatian dan perlindungan kepada ternaknya, yaitu dalam bentuk pemberian vaksinasi dan melakukan pengamatan terhadap ternaknya, sehingga jika ada kasus baru, bisa segera ditangani, sehingga tidak meluas ke ternak lainnya," paparnya.
RSJ Tampan Tahun ini Ditargetkan Sudah Layani Pasien Penyakit Umum
Waspada! Penyakit Antraks Sulit Diberantas, Sporanya Bisa Masuk Lewat Kulit
Peternak wilayah lain yang belum terserang sapi ngorok, kata Fara juga diminta waspada, jangan tergiur dengan adanya kerbau yang dijual dengan harga murah, kemungkinan besar itu adalah ternak yang sudah berpenyakit, yang berpotensi membawa penyakit ke ternak.
"Walaupun sudah disarankan untuk tidak menjual ternak yang berada di lokasi kasus, tapi masih saja ada ternak yang diperjualbelikan oleh pedagang, ke wilayah lainnya. Ini yang menyebabkan penyakit hewan berpindah-pindah," tukasnya.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Peternakan dan Kesehatan (PKH) Provinsi Riau telah mendapat laporan terkait banyaknya kerbau mati mendadak di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), yang diduga terpapar penyakit ngorok.
1,5 Juta Peserta BPJS Kesehatan Berisiko Terkena Penyakit Hipertensi
Jokowi: Kita Bangunkan Rumah Sakit Khusus Penyakit Jantung dan Kanker di Riau
"Kita baru mendapat laporan dari Dinas Peternakan Kuansing, kerbau yang mati jadi bangkai ada 8 ekor. Sedangkan mati dipotong paksa ada 100 ekor lebih," kata Kepala PKH Riau, Herman, Senin (8/5).
Terkait temuan kasus itu, Herman mengatakan, pihaknya segera menurunkan tim untuk melakukan vaksin Septicaemia Epizootica (SE) atau sapi ngorok.
"Besok kita turunkan tim untuk melakukan vaksin di Kuansing, kita bawa 1.000 dosis untuk memutus penularan," sebutnya.
Satgas PMK Riau Lakukan Sosialisasi Tangani Penyakit PMK
Niat Menjala Ikan, Warga di Pelalawan Tewas Diserang Buaya
Herman menyampaikan, sebelumnya ada sebanyak 1.300 dosis vaksin SE yang telah dikirim ke Kuansing. Dari jumlah itu 1.250 dosis sudah disuntikan ke hewan ternak, di wilayah Benai, Pangean, Basrah, Sentajo Raya, dan lainnya.
"Kami juga harap, peternak agar berkenan kalau hewan ternak disuntik vaksin. Karena penyakit ngorok ini bisa disembuh, dan gading ternak yang kena ngorok juga tidak menular untuk manusia," ucapnya. (*)