|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Putrajaya | Penulis : A.Syalaby Ichsan
Jakarta – Presiden Nusantara Foundation, Shamsi Ali Al-Kajangi, menegaskan perlunya sikap tegas dan jelas terhadap kekejaman Israel di jalur Gaza. Meskipun pernah menjadi pelopor dialog Yahudi-Muslim di Amerika, Shamsi Ali menekankan bahwa penjajahan atas bumi Al-Quds tidak bisa ditolerir.
Shamsi Ali, yang menulis buku bersama seorang Rabi Yahudi berjudul “Anak-Anak Ibrahim: Hal-hal yang Menyatukan dan Memisahkan Muslim dan Yahudi,” bertujuan meredam kesalahpahaman dan kebencian terhadap Islam dan masyarakat Muslim di Amerika. Dia juga menyoroti tingginya tingkat anti-Semitisme di Amerika, sehingga penting bagi kedua komunitas ini untuk bekerjasama menghadapi musuh bersama.
"Namun, ketika berkaitan dengan Israel dan kekejamannya, saya perlu mengambil sikap tegas dan jelas. Penjajahan, terutama atas bumi suci Al-Quds, tidak akan saya tolerir. Beberapa tokoh Yahudi di Amerika memahami posisi saya ini. Saat peluncuran buku saya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di Dubai, saya tidak hadir karena saya tahu Emirat dan Israel membangun hubungan diplomasi," ujar Shamsi Ali yang pernah menjadi anggota Muslim Jewish Advisory Council di American Jewish Committee (MJA-AJC) dalam keterangan tertulisnya kepada Republika, Selasa (17/7/2024).
Polemik Memanas: Surat Pemberhentian Gus Yahya Diakui Sah, PBNU Terbelah Sikap
SMSI Gelar Rapat Bersama Dewan Pembina dan Pakar, Bahas Sikap Kebangsaan
Shamsi Ali mengingatkan bahwa umat Islam harus memiliki batasan yang jelas dalam menyikapi dialog antaragama, termasuk dengan Yahudi, dan kepentingan Israel. Menurutnya, American Jewish Committee (AJC) adalah salah satu dari banyak organisasi yang membawa kepentingan Israel atas nama dialog antaragama.
"Maka jangan naif, apalagi didorong oleh penyakit 'wahan' (inferiority complex) demi kepentingan duniawi," kata dia.