|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Putrajaya
Namun, Dr. Andi juga mengingatkan bahwa strategi ini bisa berbalik arah jika tidak dilakukan dengan hati-hati. Menurutnya, publik mungkin melihat langkah ini sebagai upaya menghalangi pilihan mereka, yang justru bisa meningkatkan simpati dan dukungan terhadap Anies. “Pilkada Jakarta ini akan menjadi ujian penting bagi demokrasi kita, khususnya dalam melihat bagaimana kekuatan politik menggunakan pengaruhnya,” tambahnya.
Di tengah isu yang beredar, PDI Perjuangan sebagai salah satu partai utama dalam KIM turut merespons perkembangan ini. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa koalisi ini terbuka bagi semua partai yang ingin bergabung. “Kami percaya pada pentingnya stabilitas politik untuk pembangunan Jakarta yang berkelanjutan. Koalisi ini terbuka bagi siapa saja yang memiliki visi yang sama,” ujar Hasto dalam pernyataannya.
Hasto membantah tuduhan bahwa upaya ini bertujuan untuk menjegal Anies Baswedan. “Ini bukan soal menjegal, tetapi soal memperkuat koalisi yang solid untuk memastikan Jakarta memiliki kepemimpinan yang kuat dan stabil,” tegasnya. PDI Perjuangan, menurutnya, akan terus bekerja untuk memastikan Pilkada Jakarta berlangsung dengan adil dan demokratis.
Edi Basri Tegaskan Netralitas Pj Gubernur dalam Musprov KONI Riau
Perebutan Ketua Golkar Riau: Antara Loyalitas Kader dan Kepentingan Politik
Di sisi lain, tim sukses Anies Baswedan memilih untuk tetap fokus pada persiapan pencalonan. Meski belum ada komentar resmi dari Anies, timnya menyatakan bahwa mereka tidak terpengaruh oleh isu-isu politik yang berkembang. “Kami yakin dukungan masyarakat terhadap Anies tetap kuat, dan ini yang menjadi modal utama kami,” kata seorang anggota tim Anies yang enggan disebutkan namanya.
Pilkada Jakarta 2024 kini menjadi lebih dari sekadar pemilihan gubernur; ia telah berubah menjadi panggung pertarungan politik yang penuh intrik. Dengan berbagai manuver politik yang terjadi, perhatian kini tertuju pada bagaimana partai-partai tersebut akan memutuskan arah koalisi mereka, serta dampaknya terhadap peta politik Jakarta dan masa depan demokrasi di ibu kota.*