|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Rinalti Oesman | Penulis : Deslina
Rika yang bergabung dalam API Riau merasa sangat terbantu dalam tumbuh kembang dirinya sebagai pelaku UMKM, sejak adanya kolaborasi binaan dari APR. Bahkan sebagai desainer lokal, Rika akui matanya mulai melek dengan dunia desain, mulai mengintip pangsa pasar yang lebih luas, tidak saja sekadar menunggu. Bahkan peluang dan jalan yang dibuka untuk mengikuti iven Jakarta Muslim Fashion Weeek, Riau Syariah Week, Riau Berkain dan Fesyar, diakui Rika langkah yang tak mudah untuk dicapainya, jika tak ada peran besar dari kolaborasi APR dan API Riau dibelakangnya. Apalagi iniasi APR dengan membidani kelahiran Jakarta Fashion Week (JFH), sebuah ruangan kolaboratif untuk mempromosikan fashion berkelanjutan, semakin membuka mata desainer, pengusaha dan produsen lokal untuk menampilkan karya-karya anak negri, sehingga semakin mudah sampai ke pemasok.
Lain Rika, lain desainer Tiffa Qaisty Salsabila. Desainer muda yang sudah berkecimpung selama 8 tahun di dunia fashion ini mengakui bangga mengunakan bahan viscose rayon APR di setiap koleksi rancangan busananya. Brand koleksi terbarunya,Sapola Indonesia yang tampilkan di runway "APR Media Workshop" membidik pasar milenial dan Gen Z. Dia mengatakan, produk Sapola Indonesia dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan anak muda sesuai dengan tren terkini. Meskipun masih baru, respon positif dari pasar telah mewarnai perjalanan brand barunya ini, selain Brand Sakinah yang lebih awal tampil.
Desain koleksi Brand Sapola Indonesia yang ditampilkan Tiffa Qaisty Salsabila tampak jelas mengabungkan tradisional dan modern yang terdiri dari top, bottom, dan outer, sehingga bisa di-mix pemakaiannya.
PT BSP Berkomitmen Konsisten Jaga Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat
Komitmen Bupati Afni, Tidak Akan Wariskan Utang kepada Pemimpin Setelahnya
Terkait strategi unggul dalam pemasarannya,Tiffa mengatakan menerapkan pemanfaatan media sosial untuk memperkuat citra merek. “Dari seluruh total omzet untuk kedua brand 60% penjualan dilakukan secara offline, selebihnya offline, terutama untuk pelanggan loyal kita rata-rata offline dan sudah banyak yang sold out,” tuturnya sambil ketawa kecil.
Thiffa mengakui saat ini, mereka masih mengandalkan pasokan bahan baku dari Jawa. Sedangkan untuk kain tenun, tidak hanya memproduksinya sendiri, tetapi juga berkolaborasi dengan UMKM tenun dan batik di Riau serta Sumatera Barat. Tiap bulannya, mereka mampu menghasilkan total 80-100 produk, dengan setengahnya berasal dari kain tenun buatan mereka sendiri dengan mengunakan bahan vicose/rayon yang lebih lembut dengan pewarnaan alami yang lebih soft dan tidak mengkilat dibandingkan tenunan kain songket selama ini.