|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Rinalti Oesman | Penulis : Deslina
PEKANBARU- Kehadiran brand fashion asal Riau, Sakinah dan Sapola Indonesia By Thiffa Qaisty serta brand Laili Imra by Rika Guslaili Imra, dua dari desainer asal Riau kini semakin mencuri perhatian dunia mode tingkat Nasional dan Mancanegara.
Desainer yang bergabung dalam API Riau ini, bukan hanya sukses tampil dipanggung fashion Nasional, salah satunya di Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW), tapi juga mulai membidik dunia fashion mancanegara. Mereka konsisten mengunakan bahan tekstil viscose/rayon produksi Asia Pasicif Rayon (APR) serta mengkombinasikannya pada sejumlah koleksi busana yang mereka rancang.
Rika Guslaili, yan menampilkan brand Laili Imra di runway "APR Media Workshop", Senin (21/10-2024) lalu di Hotel Pangeran Pekanbaru mengatakan, bahwa ada tanggung jawab moral bagi dirinya sebagai desainer lokal untuk menggunakan bahan tekstil viscose APR di setiap rancangan koleksi busananya. Selain bahan dasarnya yang lembut dan halus, juga memiliki daya serap yang tinggi serta bisa bisa diaplikasikan dalam segala cuaca, terutama cuaca tropis Indonesia. Viscose/rayon berbahan baku berkelanjutan, dan juga mengunakan bahan warna dari pohon kayu.
PT BSP Berkomitmen Konsisten Jaga Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat
Komitmen Bupati Afni, Tidak Akan Wariskan Utang kepada Pemimpin Setelahnya

Rika bangga, koleksi busana berbahan viscose APR yang ditampilkannya merupakan tekstil yang diproduksi di Kabupaten Pangkalan Kerinci, Provinsi Riau. Kebanggaannya sebagai anak negri ini pula, melahirkan sejumlah inspirasi pada rancangan koleksi pakaiannya, salah satunya mengangkat tema alam Riau, gelombang Ombak Bono di Sungai Kampar, Pelalawan dengan koleksi busana berjudul "Rika Bono". Bono disebutnya juga dengan istilah "tujuh kuda". Dimana terdapat satu ombak besar paling depan yang diikuti oleh ombak lainnya. Liuk gelombang dan warna permukaan ombak Bono menjadi inspirasi dari koleksi dengan gaya sporty casual dan feminim.
Rika yang bergabung dalam API Riau merasa sangat terbantu dalam tumbuh kembang dirinya sebagai pelaku UMKM, sejak adanya kolaborasi binaan dari APR. Bahkan sebagai desainer lokal, Rika akui matanya mulai melek dengan dunia desain, mulai mengintip pangsa pasar yang lebih luas, tidak saja sekadar menunggu. Bahkan peluang dan jalan yang dibuka untuk mengikuti iven Jakarta Muslim Fashion Weeek, Riau Syariah Week, Riau Berkain dan Fesyar, diakui Rika langkah yang tak mudah untuk dicapainya, jika tak ada peran besar dari kolaborasi APR dan API Riau dibelakangnya. Apalagi iniasi APR dengan membidani kelahiran Jakarta Fashion Week (JFH), sebuah ruangan kolaboratif untuk mempromosikan fashion berkelanjutan, semakin membuka mata desainer, pengusaha dan produsen lokal untuk menampilkan karya-karya anak negri, sehingga semakin mudah sampai ke pemasok.
Jaksa Agung Tegaskan Komitmen Antikorupsi Saat Lantik 17 Kepala Kejati Baru
Komitmen Pemko Pekanbaru Bangun Infrastruktur, 29 Ruas Jalan Dioverlay Jelang Akhir Tahun
Lain Rika, lain desainer Tiffa Qaisty Salsabila. Desainer muda yang sudah berkecimpung selama 8 tahun di dunia fashion ini mengakui bangga mengunakan bahan viscose rayon APR di setiap koleksi rancangan busananya. Brand koleksi terbarunya,Sapola Indonesia yang tampilkan di runway "APR Media Workshop" membidik pasar milenial dan Gen Z. Dia mengatakan, produk Sapola Indonesia dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan anak muda sesuai dengan tren terkini. Meskipun masih baru, respon positif dari pasar telah mewarnai perjalanan brand barunya ini, selain Brand Sakinah yang lebih awal tampil.
Desain koleksi Brand Sapola Indonesia yang ditampilkan Tiffa Qaisty Salsabila tampak jelas mengabungkan tradisional dan modern yang terdiri dari top, bottom, dan outer, sehingga bisa di-mix pemakaiannya.
Terkait strategi unggul dalam pemasarannya,Tiffa mengatakan menerapkan pemanfaatan media sosial untuk memperkuat citra merek. “Dari seluruh total omzet untuk kedua brand 60% penjualan dilakukan secara offline, selebihnya offline, terutama untuk pelanggan loyal kita rata-rata offline dan sudah banyak yang sold out,” tuturnya sambil ketawa kecil.
Rekapitulasi DPB Triwulan III 2025 di Kampar Berjalan Lancar, KPU Tegaskan Komitmen Pemutakhiran Data Pemilih
Tim Gabungan BP3MI Riau di Dumai Gagalkan Pemberangkatan 7 PMI Ilegal Asal Aceh
Thiffa mengakui saat ini, mereka masih mengandalkan pasokan bahan baku dari Jawa. Sedangkan untuk kain tenun, tidak hanya memproduksinya sendiri, tetapi juga berkolaborasi dengan UMKM tenun dan batik di Riau serta Sumatera Barat. Tiap bulannya, mereka mampu menghasilkan total 80-100 produk, dengan setengahnya berasal dari kain tenun buatan mereka sendiri dengan mengunakan bahan vicose/rayon yang lebih lembut dengan pewarnaan alami yang lebih soft dan tidak mengkilat dibandingkan tenunan kain songket selama ini.
Bahkan saat ini, Sakinah by Thiffa Qaisty juga telah menjalin kerja sama kemitraan dengan Rumah Tenun Batik Nagori di Kuansing, Tenun Kampung Bandar di Pekanbaru, Tenun Wan Fitri (Pekanbaru), Dolas Songket (Sumbar), dan Tunun Putri Mas (Bengkalis).
Meskipun dihadapkan pada kendala SDM dan bahan baku, Sakinah by Thiffa Qaisty dan Sapola Indonesia telah berhasil menetapkan standar kualitas tinggi, terutama dalam aspek jahitan. Dengan melibatkan para mitra dalam proses produksi, mereka menjalankan kontrol kualitas secara ketat untuk memastikan produk tetap memenuhi standar yang telah ditetapkan.
Makin Memprihatinkan, Jaksa Agung Tegaskan Komitmen Selamatkan Hutan Tesso Nilo
Diduga Nonprosedural, Imigrasi Tunda Keberangkatan 1.243 Jemaah Calon Haji dari Sejumlah Bandara
“Kita kan sudah punya ekosistem. Jadi inginnya ekosistem kita terus berkembang dari hulu ke hilir. Apalagi kolaborasi API Riau dengan APR ini semakin membuka mata kita sebagai pengusaha fashion bahwa dengan mengunakan bahan baku viscose rayon produksi APR, rancangan busana yang dihasilkan tidak akan kalah bersaing dengan koleksi para desainer luar," tambah Thiffa.
Arningsih, Wakil Ketua Riau API Riau mengakui kolaborasi yang dilakukan bersama APR terhadap desainer lokal asal Riau banyak membuahkan hasil yang mengembirakan. Kepedulian APR aktif membina pengrajin dan fashion desainer lokal dengan memberikan kesempatan mengikuti berbagai iven di tingkat Nasional sebuah langkah maju dalam memasarkan produksi mereka lebih luas lagi.
"Apalagi pembinaan yang diberikan itu semuanya gratis. Kami tentu ingin pembinaan APR ini terus berkelanjutan dan menyentuh banyak desainer lokal lainnya, "jelas perempuan bertumbuh mungil itu tertawa lepas saat menyampaikan disesi tanya jawab.
Korban KDRT, Diangkat Jadi Anak oleh Kapolres Kampar
Kloter Terakhir Jemaah Haji Riau Berangkat dari Batam ke Jeddah
Pembinaan yang sudah dilakukan APR ini menurut Arniningsih, mestinya disambut dan dirangkul baik oleh Pemerintah Riau untuk turut mendukung pelaku usaha fesyen lokal ini, dengan turut mengunakan produk rancangan mereka dalam seragam ASN yang ada di Provinsi Riau, tambahnya.
Komitmen APR Terhadap Keberlanjutan
Basrie Kamba, Direktur Asia Pasific Rayon (APR) mengatakan, sebagai produsen serat viscose/rayon terintegrasi terbesar di Asia, dan telah mengekspor ke lebih dari 20 negara di seluruh dunia, termasuk pangsa pasar tektil utama eperti Banglades, Pakistan dan Turki, tentunya juga harus konsen pada permintaan viscose secara domestik. Untuk mendukung permintaan viscose secara domestik ini, APR meluncurkan kampante "Everything Indonesia" untuk mendorong penggunaan material yang berasal dari bahan baku berkelanjutan dan produksi tektil dalam negri. Tujuannya adalah untuk mendukung Indonesia sebagai pusat manufaktur tekstil global dan mempercepat pertumbuhan dan kreatifitas mode dalam negri.
Brimob Riau Angkat Koper, Siap Uji Ketangguhan di Level Nasional
1.319 Jemaah Haji Asal Pekanbaru Siap Berangkat ke Tanah Suci
Bahkan satu tahun setelah APR memulai operasional pabriknya di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau, dengan kapasitas produksi 300.000 viscose/rayon pertahun, APR menginisiasi Jakarta Fashion Hub (JFH), sebuah ruang kolaboratif untuk mempromosikan fesyen berkelanjutan sambil mendukung pertumbuhan industri tekstil dalam negri. JFH hadir sebagai ruang kreatif tempat para desainer, pengusaha dan produsen lokal untuk menampilkan karyanya,agar lebih mudah terhubung kepada pelanggan dan pemasok.
APR juga meluncurkan APR2030 untuk memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan,yaitu rangkaian target untuk 10 tahun mendatang. APR berkomitmen untuk memberikan dampak positif pada iklim dan alam, menciptakan manufktur bersih yang mendorong sikularitas dan memberdayakan masyarakat lokal, salah satu targetnya mendorong Riau menjadi textile hub yang mendorong kolaborasi konsisten antara APR dan API Riau, salah satunya dengan aktif membina pengrajin dan fesyen lokal, serta memberikan kesempatan untuk tampil dipanggung Nasional seperti Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW).
Di iven Muslim Fashion Festival (MUFFEST) selama kurun 6 tahun dilaksanakan, APR mendukung visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai modest hub dunia, tentunya dengan penggunaan material yang mendukung sustainable fashion. Serat viscose/rayon yang diproduksi APR ditegaskan Basrie berkualitas tinggi yang berasal dari 100 persen serat kayu yang alami dan terbarukan.
" Serat viscose mudah terurai, lembut, halus dan memiliki daya serap yang tinggi sehingga sesuai untuk diaplikasikan di negara tropis Indonesia. Dapat digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari, mulai dari pakaian santai, seprai, maupun pakaian pakaian olahraga. Serat kayu viscose-rayon berasal dari sumber yang dikelola secara lestari, dan telah memiliki serangkaian sertifikasi international. Bahan baku APR yang disuplai dari APRIL terlah tersertifikasi Programme for the Endorsement of Forest Certificatiation (PEFC).