|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : rea | Penulis : Putrajaya
JAKARTA – Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri, Susno Duadji, melontarkan kritik tajam terhadap langkah reformasi Polri yang tengah digulirkan. Menurutnya, perubahan di tubuh kepolisian tidak akan berarti jika hanya menyasar jajaran bawah.
Susno menilai, akar masalah justru berada di level elite yang memegang jabatan tinggi. “Kalau yang direformasi hanya anggota menengah atau bawah, percuma. Yang harus dibenahi itu para pejabatnya,” tegas Susno, Selasa (23/9/2025).
Ia menyoroti banyaknya keluhan masyarakat, mulai dari pelayanan perkara yang berlarut-larut hingga sikap Polri yang dinilai lebih berpihak pada pemodal ketimbang rakyat kecil. “Tanah rakyat diserobot perkebunan atau tambang, selalu rakyat yang kalah. Seolah-olah Polri berpihak pada investor,” ujarnya.
Sah! DPR Setujui RUU BUMN, Kementerian Resmi Berubah Jadi BP BUMN
Bukan Tandingan! Istana Tegaskan Komite Reformasi Polri Bentukan Prabowo Jadi yang Utama
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebelumnya memang telah membentuk Tim Transformasi Reformasi Polri beranggotakan 52 perwira untuk memperbaiki budaya internal, pengawasan, hingga pelayanan publik. Namun, Susno meragukan efektivitas langkah itu jika pucuk pimpinan Polri tidak ikut diganti.
“Elite Polri sekarang jelas tidak mampu mereformasi Polri. Mulai dari pimpinan tertinggi, pejabat-pejabat penting di kepolisian direformasi semua, diistirahatkan. Ganti anak-anak muda yang berkualitas,” kata Susno.
Menurutnya, regenerasi total sangat penting agar Polri benar-benar bisa berpihak pada rakyat, memberikan pelayanan yang humanis, dan tidak lagi menimbulkan konflik seperti kerusuhan saat unjuk rasa besar pada Agustus lalu.
Manuver Kapolri di Persimpangan Reformasi Polri
Mahfud MD: Polisi Kehilangan Budaya Pengabdian, Reformasi Harus Menyentuh Kultur
Namun ia juga mengingatkan, pergantian pimpinan saja tidak cukup tanpa pengawasan ketat. “Sebagus apa pun rumusan reformasi, tanpa kontrol yang serius tetap tidak ada gunanya,” pungkasnya.*