|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Red | Penulis : Rea
PEKANBARU - Hacker dengan nama samaran Bjorka kembali mengguncang ruang digital Indonesia. Setelah polisi mengumumkan penangkapan seseorang yang disebut sebagai “Bjorka palsu”, sang peretas legendaris justru muncul lagi — kali ini dengan aksi yang jauh lebih memalukan bagi aparat: membocorkan data pribadi 341 ribu anggota Polri.
Insiden ini pertama kali diungkap oleh pakar keamanan siber Teguh Aprianto lewat akun X (Twitter) miliknya, @secgron. Menurutnya, kebocoran tersebut diduga menjadi bentuk balasan atas klaim polisi yang sebelumnya menyebut telah menangkap Bjorka.
“Polisi mengklaim menangkap Bjorka. Padahal yang ditangkap itu cuma faker alias peniru. Bjorka kemudian merespons dengan membocorkan 341 ribu data pribadi anggota Polri yang berisi nama, pangkat, tempat bertugas, nomor HP, dan email,” tulis Teguh di X.
Bjorka Intelligence Brief: Jejak Sang Hacker yang Tak Pernah Usai
Polisi Bingung Siapa Bjorka yang Asli
Data itu diunggah secara gratis pada Sabtu, 4 Oktober 2025, dan sempat bisa diakses publik sebelum kemudian dibatasi. Namun, hasil penelusuran menunjukkan bahwa sebagian besar informasi tersebut bukan data baru, melainkan data lama periode 2016–2017. Artinya, sebagian nama dalam daftar kemungkinan sudah tidak aktif atau bahkan pensiun.
Meski begitu, kebocoran ini tetap menjadi tamparan keras bagi institusi kepolisian yang tengah berupaya meyakinkan publik bahwa mereka sudah “menangkap” Bjorka. Aksi ini seolah menjadi pesan sinis dari sang peretas: jangan buru-buru klaim kemenangan di dunia digital.
Menanggapi laporan tersebut, Polda Metro Jaya menyatakan akan mendalami dugaan pembobolan dan penyebaran data anggota Polri. Kepala Subbidang Penerangan Masyarakat Polda Metro Jaya, AKBP Reonald Simanjuntak, mengaku baru mengetahui kabar itu.
Pemuda Madiun Jual Channel Telegram ke Bjorka $100
MAH Mengaku Salah Jual Channel Telegram ke Bjorka
“Itu kami dalami lagi, saya baru dengar. Saya cek dulu,” ujarnya di Polda Metro Jaya, Senin (6/10/2025).
Kasus ini kembali mengingatkan bahwa keamanan data di Indonesia masih rapuh — bahkan bagi lembaga penegak hukum sekalipun. Dan di tengah kehebohan tentang siapa sebenarnya Bjorka, satu hal tampak pasti: di dunia maya, kadang yang paling cepat bereaksi bukan aparat, tapi yang merasa ditiru. *