|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Red | Penulis : Rea
NAMA Bjorka selalu muncul di saat yang tidak nyaman. Entah ketika data bocor, situs lembaga tumbang, atau publik sedang kesal pada pemerintah. Ia datang seperti bayangan—meninggalkan jejak, lalu hilang. Dan setiap kali muncul, negara tampak tergagap menebak siapa dia.
Kita tahu satu hal pasti: hampir semua aksinya terjadi di Indonesia. Targetnya selalu lembaga pemerintah, institusi publik, dan tokoh-tokoh lokal. Tak ada kementerian luar negeri, tak ada perusahaan global, apalagi sistem internasional yang dijamah.
Kalau benar Bjorka tinggal di Eropa seperti rumor awalnya, kenapa tak sekalipun menyentuh target luar negeri? Arah jarumnya jelas menunjuk ke sini: ia beroperasi di Indonesia.
Bjorka Balas Dendam: 341 Ribu Data Polisi Tersebar Setelah Penangkapan ‘Bjorka Palsu
Polisi Bingung Siapa Bjorka yang Asli
Kalimat-kalimat di postingannya juga terasa begitu familiar. Bahasa Inggrisnya bukan Inggris Barat. Kadang terlalu lurus, kadang lucu tanpa sengaja, dengan logika yang jelas-jelas Indonesia.
Kalimat seperti “Government of Indonesia is so funny” bukan ditulis oleh orang yang menguasai bahasa Inggris, tapi oleh orang yang berpikir dalam bahasa Indonesia.
Lucunya lagi, ia kadang menulis seperti warganet biasa—bercandaan, sedikit kasar, kadang sinis. Itu bukan gaya hacker Eropa, itu gaya forum daring lokal.
Waktu aktivitasnya pun aneh jika benar dia bukan di sini. Ia muncul pagi, aktif siang, kadang masih online malam—jam kerja orang Indonesia. Tak ada pola dini hari yang sesuai zona waktu luar negeri.
Pemuda Madiun Jual Channel Telegram ke Bjorka $100
MAH Mengaku Salah Jual Channel Telegram ke Bjorka
Semua petunjuk kecil itu, jika dirangkai, membuat satu simpulan sederhana: Bjorka hidup di zona waktu kita.
Setiap kebocoran besar punya karakter berbeda: cara data dikemas, gaya penulisan, hingga waktu rilisnya. Kadang cepat, kadang rapi, kadang kacau tapi sengaja dibiarkan bocor. Terlalu banyak perbedaan untuk satu kepala.
Lebih masuk akal kalau Bjorka adalah tim kecil — orang-orang dengan keahlian berbeda, tapi disatukan oleh satu hal: frustrasi pada negara.
Uang bukan motif utamanya
Bahkan data bernilai besar ia sebarkan gratis. Seolah-olah ingin bilang: “Aku tidak butuh uangmu, aku butuh kamu sadar betapa rapuh sistemmu.” Ini bukan kejahatan siber murni — ini pernyataan politik digital.
Namun yang menarik, nama Bjorka nyaris tak pernah menghiasi media internasional. Tak seperti kelompok hacker besar macam Anonymous, LAPSUS$, atau Lazarus, yang jadi langganan headline BBC dan Reuters.
Karena pesannya terlalu lokal, hanya bisa dipahami oleh yang hidup di sini. Dunia luar mungkin melihatnya hanya sebagai kasus domestik, bukan ancaman global.
Bjorka adalah cermin—yang memperlihatkan wajah keamanan data kita yang berantakan, birokrasi yang tertidur, dan sistem digital yang hanya kuat di atas kertas.
Mungkin dia bukan musuh. Mungkin dia sekadar pengingat yang menyakitkan.
Dan sampai hari ini, negara masih sibuk menebak: siapa sebenarnya Bjorka?
Pertanyaan itu tak akan mudah dijawab, karena yang ia retas bukan cuma server—melainkan rasa percaya diri kita sendiri. *