Tensi politik semakin meningkat setelah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Larijani menyebut Presiden Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai “pembunuh utama” rakyat Iran. Ia meminta warga untuk mengingat nama-nama yang dianggapnya bertanggung jawab atas jatuhnya korban jiwa.
Trump sebelumnya menyerukan rakyat Iran untuk melanjutkan aksi protes terhadap pemerintah mereka, seraya menyatakan pertemuan dengan pejabat Iran dibatalkan hingga kekerasan terhadap demonstran dihentikan.
Iran saat ini tengah dilanda gelombang protes terkait memburuknya kondisi ekonomi, penurunan nilai mata uang, serta turunnya daya beli masyarakat. Aksi berlangsung memasuki pekan ketiga dan disertai pemadaman internet secara luas. Laporan lembaga independen hak asasi manusia menyebut ratusan orang tewas dalam kerusuhan, meski angka itu tidak diakui otoritas Iran.
Dari Masalah Pribadi Jadi Mata-Mata: Cara Mossad Menjebak Targetnya
Perebutan Kursi Direktur BSP Memanas, 10 Nama Lolos Administrasi Siap Uji Kompetensi di Jakarta
Di tengah eskalasi tersebut, pemerintah Amerika Serikat juga menyerukan warganya untuk segera meninggalkan Iran, dengan rekomendasi jalur darat menuju Turki atau Armenia apabila dinilai aman.
Ketegangan diplomatik terus meningkat, sementara kedua pihak saling melontarkan peringatan keras dan menegaskan kesiapan menghadapi skenario terburuk. *