|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
TEHERAN — Amerika Serikat memperkuat kehadiran militernya di wilayah Timur Tengah dengan mengerahkan kelompok kapal induk dan sejumlah aset militer lainnya di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut pengerahan ini sebagai langkah untuk menahan potensi tindakan agresif Teheran, meskipun ia berharap tidak terjadi serangan langsung.
Kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal perang berpandu misil lainnya diposisikan di perairan Teluk Persia dan Laut Arab. Penguatan militer ini dilakukan di tengah sorotan internasional terhadap situasi di Iran, termasuk protes domestik besar dan laporan kekerasan di beberapa kota.
Trump menegaskan bahwa tujuan pengerahan armada militer adalah menunjukkan kekuatan dan menjaga stabilitas kawasan. Namun sejumlah pengamat melihat langkah ini juga sebagai bentuk tekanan strategis terhadap pemerintah Iran.
Tiga Relawan Indonesia Peserta Global Sumud Flotilla Pulang ke Tanah Air
Kejati Kepri Geledah Kantor Jasa Kapal Batam, Ungkap Dugaan Korupsi Rp4,4 Miliar
Iran Siaga Tinggi
Pemerintah Iran merespons pengerahan militer AS dengan peringatan tegas. Seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa setiap serangan terhadap negaranya akan dianggap sebagai “perang habis-habisan” dan akan dibalas dengan keras.
“Militer kami siap menghadapi skenario terburuk. Kami berharap langkah AS tidak berujung pada konfrontasi langsung, tetapi kami tetap siap menanggapi setiap serangan,” kata pejabat tersebut.
Kapal Porti Expres 22 Terbakar di Perairan Meranti
ABK Terjatuh dari Kapal di Inhil Ditemukan Meninggal Dunia
Respons Iran mencerminkan ketegangan yang meningkat secara bersamaan dengan protes domestik yang meluas, yang telah menarik perhatian internasional dan menimbulkan sorotan dari pihak AS. Beberapa mural provokatif di Teheran juga menegaskan retorika keras yang meningkat, termasuk simbol-simbol ancaman terhadap kapal perang asing.
Pengerahan kapal induk dan aset militer AS ke kawasan memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara sekitar dan operator penerbangan internasional. Beberapa maskapai besar dikabarkan menunda atau mengurangi jadwal penerbangan di wilayah Teluk akibat meningkatnya ketidakpastian keamanan.
Meskipun langkah militer ini menimbulkan ketegangan, hingga saat ini belum ada laporan resmi tentang serangan militer yang dilancarkan. Penguatan kehadiran ini dianggap sebagai bentuk tekanan dan kesiapsiagaan militer, sementara kedua pihak terus mengawasi pergerakan masing-masing untuk menghindari eskalasi penuh. *