JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mencatat sejarah baru dengan menyentuh posisi terlemah sepanjang masa. Pada penutupan perdagangan Selasa (14/4/2026), rupiah berada di level Rp 17.127 per dolar AS di pasar spot dan Rp 17.135 per dolar AS berdasarkan kurs JISDOR.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung selama empat hari berturut-turut, menandakan tekanan terhadap mata uang domestik masih cukup kuat.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) mempercepat langkah stabilisasi. Salah satu strategi yang diandalkan adalah penguatan instrumen pasar, khususnya melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), guna menjaga daya tarik aset rupiah sekaligus meredam volatilitas.
Santunan Ramadan di Siak Tembus Rp2,7 Miliar, Hadirkan Kebahagiaan Bagi Guru Ngaji hingga Penggali Kubur
Nilai Tukar Rupiah Menguat Rp16.802
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa kebijakan stabilisasi dilakukan secara hati-hati namun responsif. Ia menyebut langkah tersebut penting untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap rupiah.
Sebagai bagian dari strategi, BI meningkatkan frekuensi lelang SRBI. Jika sebelumnya hanya dilakukan sekali dalam sepekan, sejak Februari 2026 lelang digelar dua kali, yakni setiap Rabu dan Jumat. Kebijakan ini bertujuan menyerap likuiditas sekaligus menarik minat investor, termasuk dari luar negeri.