|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Penulis : vivanews
JAKARTA – Kepala Badan Pusat Statistik atau disingkat BPS, Suhariyanto, mengatakan, fenomena kenaikan tarif tiket pesawat terbang yang mulai terjadi sejak Januari 2019, tidak mencerminkan pola musimannya. Dampak inflasi yang dihasilkannya pun dinilai sudah tidak biasa.
Dia mengatakan, kenaikan harga tiket pesawat yang biasanya terjadi pada saat Ramadan maupun Lebaran serta Natal dan liburan akhir tahun, biasanya memberikan sumbangan terhadap inflasi di kisaran dua hingga empat persen.
Namun, berdasarkan catatan inflasi terakhir yang telah direkam BPS pada Mei 2019, sumbangan inflasi dari angkutan udara telah mencapai sembilan persen lebih atau mencapai dua kali lipatnya dari pola musimannya.
Jejak Pengabdian Hawk 109/209 di Riau Berlanjut ke Pontianak
BMKG Pekanbaru Prakirakan Sejumlah Wilayah Riau Berpotensi Hujan Lebat
"Fenomena kenaikan harga tiket pesawat mulai Januari 2019 ini sudah tidak biasa," kata Suhariyanto di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin 17 Juni 2019.
Akibatnya, lanjut dia, fenomena tersebut berdampak langsung terhadap turunnya jumlah penumpang angkutan udara untuk penerbangan domestik. Pada Januari hingga April 2019, jumlah penumpang sebanyak 24 juta orang atau turun 20,50 persen dibanding periode yang sama tahun lalu 30,2 juta orang.
Begitu juga terhadap tingkat penghunian kamar hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada April 2019 yang hanya mencapai rata-rata 53,90 persen atau turun 3,53 poin dibandingkan pada April 2018 yang sebesar 57,43 persen.