|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Putrajaya | Penulis : Afiffah Rahmah Nurdifa
Sementara itu, penyaluran KPR dan KPA secara triwulanan tercatat sebesar 2,77 persen (yoy), melambat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,27 persen (yoy). Di samping itu, pencairan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada triwulan IV 2022 tercatat sebesar Rp8,033 triliun atau meningkat 250,93 persen (yoy), kembali tumbuh positif dari terkontraksi sebesar -10,02 persen pada triwulan sebelumnya.
Meski masih dalam pertumbuahn positif, dia mendorong pemerintah untuk membuat cara baru, intrumen baru, juga regulasi baru untuk mengakomodir perubahan zaman. Hal ini perlu segera ditangani dengan kerja sama berbagai pihak termasuk perbankan, developer, dan OJK.
“Kalau menggunakan cara lama dipastikan KPR bersubsidi akan tumbang, karena tingkat kerentanan MBR milenial sangat rentan terhadap jebakan pinjaman online dan transaksi online kredit. Indikator kenapa kita harus mengasumsikan seperti itu, karena di 2022 FLPP tidak semua terserap,” ujarnya seperti dikutip ekonomi.bisnis.com.
Ustadz Abdul Somad Dikabarkan Terjebak Saat Kericuhan Pecah di Lapas Muara Beliti
Besok, Jangan Lalui Rute Ini, Nanti Terjebak Riau Bhayangkara Run
Adapun, menurutnya, OJK juga harus memitigasi jeratan pinjaman online yang menimpa kaum milenial. Belum lagi dengan adanya permasalahan rumah bersubsidi yang sudah tepat sasaran atau belum. Hal ini tentu untuk menjaga momentum pertumbuhan, di industri properti tentunya harus melihat apa yang harus dilakukan agar kondisi bisnis properti aman, terjaga, terkendali.
Lebih lanjut, Risma menjelaskan, para developer akan mengalami kenaikan suku bunga, terhambatnya user yang lolos di SLIK OJK, dan harga rumah subsidi yang belum juga disesuaikan selama 3 tahun, padahal harga ongkos produksi rumah telah mengalami kenaikan signifikan.