|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Penulis : PE/RIN
PEKANBARU - Pemprov Riau terus berupaya memberikan perhatian terhadap tata kelola ekosistem gambut. Hal ini sejalan dengan program Riau Hijau dan karakteristik daerah Riau dengan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) lebih dari 4,9 juta hektare.
Demikian disampaikan, Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau, SF Hariyanto ketika mewakili Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar, dalam Forum Group Discussion (FGD) dengan tema "Kebijakan Riau Hijau dan Keterpaduan Lintas Sektor dalam Mendukung Restorasi Gambut dalam Rangka Pembangunan Daerah". Digelar di Ruang Siak Sri Indrapura, Gedung Rektorat Universitas Riau (Unri) pada Selasa, (8/8/2023).
SF Hariyanto ungkapan terima kasih atas kunjungan Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Hartono Prawiraatmaja ke Provinsi Riau. Disampaikan, forum ini merupakan media berbagai pengetahuan dan pengalaman para pihak berkaitan dengan ekosistem gambut di Riau yang terluas di pulau Sumatera. Mencakup lebih kurang 68 persen berada di wilayah daratan Riau.
Harga Emas Antam Longsor di Akhir Pekan, Cek Daftar Lengkapnya
Bikin Geger Sepak Bola Asia! PSSI Percayakan Timnas Garuda ke Pelatih Penakluk Piala Dunia
"Sumber Daya Alam ini harus dikelola secara bijaksana agar memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah. Kami mengajak akademisi, mitra pembangunan, dan pihak terkait untuk memberikan dukungan dan dedikasi bagi kinerja pengelolaan ekosistem gambut yang berkelanjutan di Provinsi Riau," sebut SF saat menyampaikan sambutan Gubri.
Pembangunan yang tidak bijak, sebutnya, akan menimbulkan berbagai bencana, seperti Karhutla, kekeringan, banjir, dan emisi karbon, juga sebagai pemicu perubahan iklim yang akan mengancam kehidupan. "Jika lahan dikelola secara lestari dan dilindungi dari ancaman yang dapat merusak fungsinya, maka akan mendapatkan manfaat ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat dan perbaikan kualitas lingkungan hidup yang menunjang kehidupan berkelanjutan," ucapnya.