|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Rea | Penulis : Red
PEKANBARU - Mereka yang berkepribadian narsistik ternyata cenderung menikmati saat menjadi bahan pembicaraan, bahkan ketika gosip yang beredar bernada miring. Temuan ini diungkap dalam riset terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Self and Identity, dipimpin oleh Andrew Hales dari University of Mississippi.
Dalam penelitian itu, para narsisis menunjukkan kecenderungan lebih suka dibicarakan ketimbang diabaikan. Bagi mereka, menjadi pusat perhatian - baik dalam konteks positif maupun negatif - adalah bentuk pengakuan akan eksistensi diri.
Studi ini melibatkan lebih dari 2.000 responden dan menyoroti bagaimana perasaan seseorang ketika mengetahui dirinya menjadi topik gosip, terutama dari perspektif orang yang digosipkan, bukan si penyebar kabar.
Rupiah Terdesak, Uang Orang Kaya Kini Mengalir ke Dolar
Borok BUMD Riau Terungkap, Eks Direksi PT SPR Diduga Tilep Rp33 Miliar!
Hasilnya, sekitar 64 persen peserta mengaku lebih senang jika disebut-sebut secara positif ketimbang tidak disebut sama sekali. Menariknya, sekitar 15 persen tetap memilih menjadi sasaran gosip meski isi pembicaraannya bernada negatif.
“Bagi sebagian orang, antara menjadi bahan omongan buruk atau tak dianggap sama sekali, keduanya menyakitkan. Tapi bagi mereka yang sangat peduli terhadap citra sosial-seperti individu narsistik- diabaikan bisa terasa jauh lebih menyakitkan,” ujar Hales seperti dikutip dari Study Finds, Senin (12/5/2025).
Ia menambahkan, orang dengan kepribadian narsistik kerap merasa istimewa dan pantas menjadi pusat perhatian. “Mereka bisa saja menganggap gosip negatif sebagai validasi, sebagai tanda bahwa orang lain masih memikirkan mereka,” lanjutnya.
Kejati Kepri Geledah Kantor Jasa Kapal Batam, Ungkap Dugaan Korupsi Rp4,4 Miliar
Terungkap! Rekening Dorman Pengusaha Tanah Dibobol Sindikat, Raib Rp204 Miliar di BNI
Penelitian juga menemukan bahwa pria lebih terbuka terhadap kemungkinan menjadi objek gosip negatif dibandingkan perempuan. Namun dalam gosip bernada positif, ketertarikan antara laki-laki dan perempuan relatif seimbang.
Usia juga turut berperan. Responden muda cenderung lebih ingin menjadi subjek gosip positif dibanding kelompok usia yang lebih tua. Menurut Hales, hal ini berkaitan dengan kebutuhan anak muda untuk memperluas jejaring sosial dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.
Hal menarik lainnya, individu yang merasa terkucil dalam pergaulan lebih memilih menjadi bahan gosip - baik netral maupun negatif - daripada tidak dibicarakan sama sekali. Namun anehnya, mereka justru merasa tidak nyaman saat digosipkan secara positif. Diduga, ini berkaitan dengan ketidaksesuaian antara pujian yang diterima dan persepsi negatif mereka terhadap diri sendiri. *