Pemerintah kota tampaknya antusias menerima investasi. Bagi mereka, mal adalah simbol kemajuan. Tapi di tengah geliat itu, ada keraguan yang mengendap di benak banyak orang: apakah tempat yang terlihat mewah dan penuh pengunjung itu benar-benar hidup? Atau hanya penuh oleh angka-angka statistik yang tak menyentuh kasir?
Mungkin kita semua tahu jawabannya.
Sore menjelang malam, dan di lantai dua mal itu, suara AC masih mengalun. Di sofa dekat eskalator, tiga remaja rebah tertidur. Di tangan mereka, hanya ponsel dengan baterai hampir habis dan plastik berisi air mineral. Di layar besar mal, tayangan promosi terus diputar, mengajak untuk "belanja lebih, hidup lebih ceria."
Ketua PWI Riau Raja Isyam Azwar Lepas Rombongan PWI ke HPN 2026 di Banten
Pedagang Pusing Penjualan Mobil Bekas 2025 Anjlok, Lebih Buruk dari Masa Pandemi
Tapi mungkin mereka tidak mendengar. Mereka hanya datang, duduk, dan pergi—seperti bayangan yang tak sempat menyentuh etalase. Dan para pemilik mal tetap mencatatnya: sebagai trafik. Sebagai angka. *