|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Putrajaya
Analis militer dari Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai kondisi tersebut sebagai celah serius dalam sistem pertahanan dan tata kelola kedaulatan. Ia menyebut bahwa selama lima tahun terakhir, lalu lintas barang dan manusia dari dan ke bandara tersebut berpotensi berlangsung tanpa pengawasan penuh dari negara. Menurutnya, situasi seperti itu tidak hanya memunculkan pertanyaan mengenai fungsi bandara, tetapi juga mengenai batas dan kontrol negara di kawasan industri strategis.
“Itu sebabnya Menhan menyampaikan pesan kuat bahwa negara tidak akan tinggal diam terhadap wilayah strategis yang ‘luput’ dari kontrol,” ujar Selamat kepada IDN Times pada Rabu (26/11/2025). Ia juga menilai bahwa momentum latihan TNI di Morowali dapat menjadi titik evaluasi pengelolaan bandara khusus di Indonesia. Selamat bahkan menyebut jika diperlukan, bandara itu bukan hanya perlu diawasi, tetapi bisa difungsikan sebagai bagian dari infrastruktur pertahanan negara. “Kalau perangkat negara sudah ditempatkan, dan pertimbangannya tepat, tidak tertutup kemungkinan Bandara IMIP difungsikan sebagai pangkalan udara,” ujarnya.
Latihan militer ini tidak hanya menjadi acara simbolik kehadiran negara, tetapi juga membuka diskusi yang lebih luas mengenai standar nasional untuk fasilitas transportasi udara yang dikelola sektor swasta dalam lingkup industri strategis. Publik kini menunggu respons lebih lanjut dari pemerintah, apakah langkah setelah latihan ini akan berupa penempatan aparat tetap, revisi regulasi bandara khusus, atau perubahan fungsi bandara menjadi bagian dari sistem pertahanan nasional. *