|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
BERLIN — Tim pengintai militer Jerman mengakhiri penugasan singkat mereka di Greenland pada Minggu, 18 Januari 2026. Setelah berada di wilayah Arktik selama sekitar 44 jam, pasukan tersebut dijadwalkan kembali ke Jerman dari Nuuk, ibu kota Greenland, pada siang hari.
Surat kabar Bild melaporkan, tim itu terdiri dari 15 personel. Padahal sebelumnya, masa tugas mereka diperkirakan bisa diperpanjang dari rencana awal dua hari.
Juru bicara Komando Operasional Angkatan Darat Jerman menjelaskan bahwa misi eksplorasi telah dijalankan sesuai agenda utama. Namun, cuaca ekstrem di kawasan Arktik membuat sebagian rencana tidak dapat direalisasikan sepenuhnya.
KTT Doha Memanas: Pemimpin Muslim Serukan Pasukan Gabungan
Bupati Rohil Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Lancang Kuning 2025
“Eksplorasi telah selesai sesuai perencanaan,” ujar juru bicara tersebut dalam pernyataan tertulis yang dikutip Luxembourg Times. Ia menambahkan, satu stasiun terpaksa batal dikunjungi akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Meski demikian, keterbatasan tersebut disebut tidak mengurangi esensi misi. Menurut pihak militer Jerman, penugasan singkat itu tetap menghasilkan informasi strategis yang bernilai.
“Berbagai wawasan penting berhasil diperoleh. Ini memungkinkan kami mengoordinasikan langkah lanjutan bersama mitra dan dalam kerangka NATO untuk memperkuat keamanan di Atlantik Utara serta kawasan Arktik,” kata juru bicara itu.
Israel Serbu RS Indonesia di Gaza
Normalisasi Drainase di Tiga Titik, UPR Pekanbaru Kerahkan Pasukan Kuning
Jerman memimpin pengerahan pasukan ke Greenland bersama sejumlah negara Eropa lain dalam misi eksplorasi pekan lalu. Langkah ini dinilai sebagai sinyal keseriusan Eropa terhadap isu keamanan regional, terutama kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Selain Jerman, beberapa negara lain seperti Prancis, Swedia, Norwegia, dan Inggris juga terlibat. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari persiapan menjelang latihan militer yang telah dijadwalkan di kawasan tersebut.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Trump, pada Sabtu, mengumumkan rencana penerapan tarif impor sebesar 10 persen mulai Februari 2026. Tarif itu direncanakan naik menjadi 25 persen pada Juni dan akan diberlakukan terhadap delapan negara Eropa, termasuk Jerman.
Wabup Inhu Irup Apel Gelar Pasukan Ops Lilin
Bupati Pelalawan Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Lancang Kuning.
Kebijakan tersebut disebut sebagai respons atas pernyataan negara-negara Eropa yang menilai latihan militer NATO di Greenland hanya bersifat simbolik, di tengah meningkatnya tensi akibat sikap keras Amerika Serikat.
Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka mengkritik ancaman tarif tersebut dan menyebutnya tidak dapat diterima. Seorang sumber yang dekat dengan Macron mengatakan, pada Minggu, Presiden Prancis berencana meminta aktivasi instrumen anti-pemaksaan Uni Eropa—mekanisme balasan paling kuat yang dimiliki blok tersebut—sebagai respons terhadap kebijakan tarif baru dari Washington. *