|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Di titik ini, posisi Eropa menjadi menarik. Dalam kerangka Trump, Eropa bukan pemain risiko utama. Ia adalah sekutu lama, tetapi juga kawasan yang sangat bergantung pada payung keamanan Amerika. Ketergantungan ini membuat Eropa relatif mudah ditekan dan tidak mendesak untuk selalu dilibatkan sejak awal. Bagi Trump, mengamankan aktor berisiko jauh lebih penting ketimbang menjaga perasaan sekutu yang sudah mapan.
Konflik seperti Gaza kemudian berfungsi sebagai pintu masuk. Isu ini sarat dimensi kemanusiaan, tetapi juga memiliki resonansi geopolitik luas, melibatkan dunia Islam, Rusia, China, dan negara-negara Global South. Dengan menjadikannya agenda Dewan Perdamaian, Trump dapat memosisikan Amerika sebagai pengatur meja, bukan sekadar pendukung salah satu pihak.
Cara pandang ini tentu terasa dingin. Konflik tidak dilihat terutama sebagai tragedi, melainkan sebagai variabel yang harus dikelola. Namun bagi seorang pebisnis, konflik yang sepenuhnya selesai justru menghilangkan daya tawar. Yang lebih penting adalah memastikan konflik tidak berkembang liar dan tetap berada dalam jalur negosiasi.
Dewan Perdamaian Versi Trump Bikin Dunia Waswas, PBB Terancam Tergeser
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Buka Dialog Nasional SMSI: Media Baru Harus Mengarah pada Pers Sehat
Merangkul Rusia, dan mungkin kelak China serta Korea Utara, bukan berarti Trump mencari perdamaian ideal. Ia sedang membangun arsitektur kendali. Dalam dunia bisnis, jabat tangan hari ini tidak menutup kemungkinan konflik esok hari. Yang penting, semua pihak tetap terikat dalam satu kerangka yang bisa dinegosiasikan.
Pendekatan ini berpotensi mengubah wajah tata dunia. Diplomasi nilai bergeser menjadi diplomasi risiko. Negara-negara non-blok bisa memperoleh ruang manuver baru, tetapi nilai moral berisiko tereduksi menjadi sekadar latar.