|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
PEKANBARU - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Washington mengirimkan tambahan persenjataan dan aset militer ke kawasan Timur Tengah. Di saat yang sama, Iran menyatakan kesiapan menghadapi risiko terburuk. Meski situasi dinilai berbahaya, sejumlah pengamat geopolitik internasional menilai konflik terbuka berskala besar belum menjadi skenario paling mungkin.
Richard Haass, mantan Presiden Council on Foreign Relations (CFR), dalam sejumlah analisisnya menyebut pengerahan kekuatan militer AS di kawasan lebih mencerminkan strategi pencegahan dan tekanan politik dibanding persiapan perang total. Menurut Haass, baik AS maupun Iran sama-sama memahami bahwa perang langsung akan membawa konsekuensi regional dan global yang sulit dikendalikan.
Pandangan serupa disampaikan Suzanne Maloney, analis Iran di Brookings Institution. Ia menilai Washington cenderung menggunakan kombinasi tekanan militer dan diplomasi paksa untuk menahan langkah Iran, terutama terkait isu keamanan regional dan nuklir. Dalam kalkulasi ini, kehadiran militer lebih berfungsi sebagai alat tawar, bukan sinyal invasi.
PPP Dipersilahkan Tinggalkan Koalisi Jika Ngotot Sodorkan Sandiaga Uno
Pemerintah Ngotot Gelar Pilkada, Kemendagri Minta Bantuan Pemda
Dari sisi Iran, Sanam Vakil dari Chatham House menilai Teheran kecil kemungkinan memilih konfrontasi langsung dengan AS. Strategi Iran selama ini, menurut Vakil, lebih bertumpu pada respons tidak langsung dan terukur, termasuk memanfaatkan pengaruh kelompok sekutu di kawasan untuk menjaga daya tawar tanpa memicu eskalasi penuh.
Sementara itu, Ali Vaez dari International Crisis Group (ICG) mengingatkan bahaya terbesar justru terletak pada risiko salah perhitungan. Dalam situasi militer yang padat dan penuh tekanan politik, insiden kecil—baik di laut, udara, maupun melalui serangan terbatas—berpotensi memicu eskalasi yang tidak direncanakan oleh kedua pihak.