|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Penulis : rls
Sebelumnya, Indonesia dikenal sebagai negara dengan lahan mangrove terbesar di dunia, seluas 3,556 juta hektare, menurut data yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Namun kini 33,55 persen atau 1,193 juta hektar lahan mangrove di Indonesia dalam kondisi kritis. Sebagian besar hutan mangrove telah hilang akibat konversi lahan untuk budidaya perikanan dan pembangunan. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kerusakan hutan mangrove tercepat di dunia.
Dalam luasan yang setara dengan hutan tropis, hutan mangrove mampu menyimpan karbon 3-5 kali lebih banyak. Sebagai gambaran, hutan mangrove seluas 1 hektar mampu menyerap 1.000 ton karbon per hektare.
Itu sebabnya, menyelamatkan hutan mangrove menjadi krusial dalam memerangi perubahan iklim. Dan selayaknya upaya penyelamatan dan pelestarian hutan mangrove menjadi tugas bersama seluruh pihak, pemerintah, perusahaan BUMN dan swasta, maupun lembaga kemasyarakatan.
Sejalan dengan nilai Perusahaan, melindungi manusia dan lingkungan, PT CPI berkomitmen mendukung program MERA. ’’Kami bangga dapat berpartisipasi dalam program MERA, bermitra dengan YKAN dan beberapa perusahaan swasta lainnya, guna mendukung program pemerintah di bidang perlindungan lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati, khususnya program konservasi mangrove.
Makin Memprihatinkan, Jaksa Agung Tegaskan Komitmen Selamatkan Hutan Tesso Nilo
Ikhtiar PHR Dukung Aksi Selamatkan Bumi
Bersama YKAN dan Pemerintah Daerah Provinsi Riau, kami berencana melakukan replikasi program konservasi mangrove di kawasan mangrove Dumai dan Bengkalis, Riau. Studi desain rencana restorasi kawasan pesisir di kedua daerah tersebut sudah berjalan sejak awal tahun dan diharapkan selesai akhir tahun ini. Harapan kami, implementasi program ini dapat dimulai tahun 2020,’’ kata Wahyu Budiarto, Sr Vice President Corporate Affairs.
Saat ini, program MERA sedang bekerja di dalam Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA). SMMA merupakan kawasan hutam mangrove seluas 25 hektare. Di Jakarta hanya tersisa sekitar 300 hektar hutan mangrove, seluruhnya berada di kawasan Angke Kapuk.