|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
JAKARTA - Meski mendukung gerakan boikot produk yang terafiliasi atau mendukung Israel penting dilakukan agar meraih perhatian politik, namun menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, gerakan tersebut tidak cukup, dan perlu solusi yang lebih kongkret untuk menyelesaikan tragedi yang terjadi, salah satunya mengajak pemimpin dunia menekan Israel.
"Gerakan boikot cukup penting untuk mendapatkan perhatian politik dan saya kira sekarang juga sudah terasa," ujar Gus Yahya di Jakarta, Selasa (21/11/2023).
Menurut Gus Yahya, gerakan boikot produk memang menjadi satu langkah penting. Namun, hal tersebut tidaklah cukup.
"Ini penting untuk mendapatkan perhatian politik, tetapi harus dipikirkan jalan keluar yang masuk akal dan possible. Bukan cuma sekadar harapan, tetapi betul-betul yang workable yang bisa dilakukan jalan keluarnya," kata dia.
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Buka Dialog Nasional SMSI: Media Baru Harus Mengarah pada Pers Sehat
Edi Basri Tegaskan Netralitas Pj Gubernur dalam Musprov KONI Riau
Bahkan, kata dia, saling boikot produk terjadi antara pendukung perjuangan Palestina maupun pendukung agresi Israel. Pada akhirnya, gerakan ini bersifat resiprokal dan pada saat yang bersamaan agresi tentara Israel ke Palestina tetap berlanjut.
"Sebelum semua itu, serangan harus dihentikan segera. Ini kita sampaikan terus-menerus. Bukan cuma kita saja, tetapi semua pihak di seluruh dunia," kata dia.
Dia mengajak para pemimpin agama di seluruh dunia untuk bertindak secara nyata dalam menghentikan agresi Israel terhadap masyarakat di Gaza, Palestina.
Polemik Memanas: Surat Pemberhentian Gus Yahya Diakui Sah, PBNU Terbelah Sikap
PBNU Umumkan Berakhirnya Masa Jabatan Gus Yahya, Kepemimpinan Dialihkan ke Rais Aam
"Menghentikan segera bencana kemanusiaan berlangsung di Gaza," ujar Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf di Jakarta, Selasa.
Gus Yahya mengatakan ajakan ini akan dirumuskan dalam gelaran R20 International Summit of Religious Authorities (ISORA) pada Senin (27/11/2023) di Jakarta.
Sejumlah tokoh agama dari sejumlah negara yang tergabung dalam R20 akan menghadiri kegiatan tersebut.
Perebutan Ketua Golkar Riau: Antara Loyalitas Kader dan Kepentingan Politik
Dukung Penguatan Media Siber, KH. Ma’ruf Amin Bersedia Jadi Ketua Dewan Penasehat SMSI
Menurutnya, kegiatan ini diharapkan dapat menggerakkan para aktor global dan tokoh-tokoh agama untuk menyuarakan gencatan senjata di Palestina.
"Otoritas agama akan memobilisasi kekuatan yang mereka punya untuk bergerak dan meletakkan pengaruh pada komunitasnya dan lingkaran pemangku kebijakan untuk bergerak maju," ujarnya.
Ia mengatakan, ISORA juga akan membahas mengenai masalah fundamental konflik yang masih terjadi sampai sekarang bahkan semakin parah di Timur Tengah, yaitu melemahnya tatanan internasional yang seharusnya menjadi aturan internasional dan disepakati negara-negara.
Formappi: KPU Jadi Penyebab 211 Anggota DPR Tak Ungkap Pendidikan
HPN 2026 di Banten, Ketum PWI: Momentum Dorong Ekonomi dan Pembangunan
Gus Yahya menegaskan bahwa masalah ini bukan hanya terjadi pada satu kelompok saja, tapi masalah bagi kemanusiaan. "Jika kemanusiaan tidak bisa menyelesaikan masalah Palestina, maka kemanusiaan itu gagal pada dirinya sendiri," katanya.
Sumber: Republika