|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Putrajaya | Penulis : Red
Jakarta - Dr. Zainul Maarif, seorang intelektual dan anggota Nahdlatul Ulama (NU), menjadi pusat perhatian setelah kunjungannya ke Israel bersama empat aktivis Nahdliyin lainnya. Pertemuan dengan Presiden Israel, Isaac Herzog, di tengah ketegangan yang sedang berlangsung di Gaza menimbulkan berbagai reaksi dan kontroversi.
Dr. Zainul Maarif merupakan sosok yang aktif dalam berbagai kegiatan lintas agama dan dialog antarumat beragama. Sebagai bagian dari PBNU, dia sering terlibat dalam upaya membangun jembatan pemahaman antara berbagai komunitas agama. Kariernya di dunia intelektual dan keagamaan membawanya ke berbagai forum nasional dan internasional, di mana ia dikenal sebagai pendukung dialog dan kerjasama lintas agama.
Dr. Zainul Maarif juga terlibat dalam berbagai proyek dan inisiatif yang bertujuan meredam kesalahpahaman dan konflik antaragama. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat dan pemahaman mendalam tentang teologi dan sosial keagamaan, ia sering menjadi pembicara dalam seminar dan diskusi yang berfokus pada toleransi dan perdamaian.
Kunjungan ke Israel
Pada Juli 2024, Dr. Zainul Maarif bersama empat intelektual Nahdliyin lainnya melakukan kunjungan ke Israel dan bertemu dengan Presiden Isaac Herzog. Foto-foto pertemuan tersebut diunggah oleh Zainul Maarif di akun Facebook-nya, meskipun kemudian dihapus, foto-foto tersebut sempat viral di media sosial dan memicu berbagai tanggapan dari masyarakat dan tokoh-tokoh Islam.
Kunjungan ini dianggap kontroversial mengingat situasi konflik antara Israel dan Palestina, terutama terkait serangan Israel di Gaza. Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa pertemuan tersebut tidak mewakili PBNU sebagai organisasi dan dilakukan tanpa mandat dari PBNU. KH Yahya menekankan bahwa kebijakan hubungan kerja sama dengan pihak luar harus melalui persetujuan PBNU pusat.
Dalam pernyataannya, Dr. Zainul Maarif menyatakan bahwa kunjungannya bertujuan untuk berdialog dan mencari solusi damai atas konflik yang berlangsung. Ia menegaskan bahwa dialog dan diskusi lebih efektif daripada demonstrasi dan pemboikotan dalam menyelesaikan masalah.
"BERBINCANG LANGSUNG DENGAN PRESIDEN ISRAEL. Saya bukan demonstran, melainkan filsuf-agamawan. Alih-alih demonstrasi di jalanan dan melakukan pemboikotan, saya lebih suka berdiskusi dan mengungkapkan gagasan. Terkait konflik antara Hamas-lsrael, dan relasi Indonesia-lsrael, saya bersama rombongan berdialog langsung dengan Presiden Israel, Isaac Herzog (yang duduk dengan dasi biru) di istana Sang Presiden. Semoga hasil terbaik yang dianugerahkan untuk kita semua," tulis Zainul Maarif di akun Facebook-nya.
Kunjungan Dr. Zainul Maarif dan rombongannya mendapat kritik tajam dari berbagai pihak. Banyak yang menilai bahwa langkah tersebut dapat dianggap sebagai bentuk legitimasi terhadap tindakan Israel di Palestina. PBNU sendiri menegaskan bahwa tindakan tersebut adalah tanggung jawab pribadi dan tidak mewakili lembaga.
Gus Yahya, sapaan akrab KH Yahya Cholil Staquf, mengingatkan bahwa semua kebijakan yang melibatkan kerjasama internasional harus melalui persetujuan PBNU pusat dan tidak boleh dilakukan secara individu. *