|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Kekhawatiran utama muncul dari piagam Dewan Perdamaian yang disertakan dalam undangan. Seorang diplomat menggambarkan dokumen tersebut sebagai “PBB versi Trump”, merujuk pada potensi tumpang tindih bahkan pengerdilan fungsi lembaga internasional yang sudah ada.
Banyak diplomat menilai Trump membayangkan peran dewan itu jauh melampaui isu Gaza. Mandatnya disebut bisa mencakup konflik lain yang diklaim telah atau akan diselesaikan oleh Trump, sebuah pendekatan yang dinilai sarat kepentingan politik.
Undangan ke Dewan Perdamaian juga dikirim kepada para pemimpin Prancis, Jerman, Italia, Hongaria, Australia, Kanada, Komisi Eropa, serta negara-negara kunci di Timur Tengah. Trump mempromosikan dewan tersebut sebagai instrumen perdamaian internasional yang lebih gesit dan efektif dibandingkan lembaga multilateral konvensional.
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Buka Dialog Nasional SMSI: Media Baru Harus Mengarah pada Pers Sehat
Jejak Kontroversi Lingkungan dan Sejarah Kepemilikan Toba Pulp Lestari
Di sisi lain, pejabat senior PBB menegaskan bahwa hanya PBB yang memiliki legitimasi untuk mempersatukan negara-negara dunia. Ia memperingatkan, upaya mempertanyakan atau menyaingi peran tersebut bisa menyeret dunia ke masa yang penuh ketidakpastian.
Kontroversi juga muncul dari komposisi dewan yang telah diumumkan Gedung Putih. Sejumlah tokoh politik ditunjuk, namun tak satu pun berasal dari Palestina. Sementara itu, rencana pembentukan pemerintahan teknokratis di Gaza disebut akan diawasi oleh dewan internasional yang diklaim disepakati Israel dan Hamas, di tengah situasi gencatan senjata yang masih rapuh.