Ia menegaskan, polisi harus menjadi institusi yang dicintai masyarakat. Namun, upaya tersebut hanya bisa terwujud jika Polri mampu menghilangkan citra negatif yang selama ini muncul akibat perilaku segelintir oknum, termasuk gaya hidup mewah yang tidak mencerminkan kesederhanaan dan pengabdian sebagai aparat negara.
Menurut Faisal, perilaku individual yang menyimpang di lapangan kerap berdampak sistemik karena mencederai nama baik institusi secara keseluruhan. Oleh karena itu, pembenahan budaya organisasi dan penegakan disiplin internal harus menjadi prioritas utama dalam agenda reformasi.
Selain pembenahan sistem dan instrumen kerja, Faisal juga menyoroti pentingnya pembinaan moral dan etika profesi bagi setiap anggota Polri. Ia menilai, nilai-nilai agama dan kepatuhan terhadap aturan harus terus ditanamkan sebagai fondasi dalam menjalankan tugas.
KPK Geledah Kantor Dinas Pendidikan Riau, Diduga Terkait Kasus Korupsi Gubernur Nonaktif Abdul Wahid
Gubernur Riau Abdul Wahid Tiba di KPK, Langsung Jalani Pemeriksaan Usai OTT di Pekanbaru
“Anggota Polri harus tetap berpegang pada aturan dan nilai-nilai moral. Pelayanan keamanan dan penegakan hukum kepada masyarakat juga perlu mempertimbangkan nilai-nilai kearifan sosial yang hidup di tengah masyarakat. Hal ini penting agar kewenangan yang dimiliki tidak disalahgunakan,” ujarnya.
Faisal menekankan, reformasi yang bersifat substantif akan jauh lebih berdampak dibandingkan perubahan struktural yang justru berpotensi menimbulkan kerancuan kewenangan.