|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Penulis : Rep
Pearson bahkan mengunjungi masjid setempat dan mulai berteman. Dia bergabung dengan mereka selama perayaan buka puasa, ia senang mengenal dan mempelajari ibadah Muslim. "Saya berpuasa selama Tantangan Ramadhan dan sejauh ini saya pikir itu baik bagi saya," katanya pada hari ke-15 puasa.
"Kadang-kadang bisa sedikit sulit, tetapi itu benar-benar dapat mengajarkan Anda disiplin diri," ujar Pearson menambahkan.
Salah satu penganut agama Kemetic Orthodox melihat jilbab sebagai kendali atas bagaimana yang dia dirasakan oleh dunia luar. "Saya memiliki kendali atas siapa yang melihat saya, seberapa banyak dari saya yang mereka lihat. Saya memiliki kekuatan atas tubuh saya, tidak ada orang lain," kata Siobhan Welch.
Ribuan Warga Padati Kampar Utara, Rela Berjalan Ratusan Meter Demi Saksikan Pembukaan MTQ ke-54
Ribuan Warga Kepung Kantor Gubernur Riau, Tuntut Kepastian Nasib di Tesso Nilo
Seorang mahasiswa kedokteran Muslim India, Sania Rukhsar Zaheeruddin (25 tahun) yang biasanya tidak mengenakan jilbab, mengambil bagian dalam tantangan dan melihatnya dengan cara yang hampir sama. "Di dunia di mana Islamofobia ada, ini seperti alat kekuasaan bagi wanita Muslim. Ini membantu kita untuk lebih percaya diri, memberi kita opini secara global," kata dia seperti dilansir republika.co.id
Bagi Zaheeruddin, pentingnya tantangan itu adalah untuk menunjukkan jilbab tidak mengubah fakta bahwa semuanya adalah manusia. "Perempuan Muslim diproyeksikan sebagai bentuk tertindas, dan rendah di dunia modern. Dan karena Islamophobia konseptual menyebar seperti api liar, penting bagi kami wanita Muslim untuk merasakan hal yang sama seperti yang lain," paparnya.