|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Penulis : republika
JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) telah mengumumkan 1 Syawal tahun ini jatuh pada Rabu (5/6). Penetapan itu dilakukan setelah Kemenag menggelar sidang isbat, Senin (3/6). Dari pantauan hilal yang dilakukan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin dalam pemaparan hasil sidang itu mengatakan, tidak ada yang berhasil melihat hilal.
Bagaimanapun, di beberapa negara lain tidak seperti Indonesia. Arab Saudi dan negara-negara Teluk, misalnya, akan merayakan Idul Fitri pada hari ini, Selasa (4/6).
Terkait itu, dai ambassador Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) Ustaz Alnofiandri Dinar mengatakan, di setiap wilayah memang dapat berbeda-beda mengenai penampakan hilal. Karena itu, wajar bila ada perbedaan hari Idul Fitri antarwilayah atau negara.
BMKG Prakirakan, Hari Ini Hujan Mengguyar Sebagian Wilayah Riau
SLB Pembina Pekanbaru Meriahkan Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025
Dia meneruskan, patokan penentuan waktu Idul Fitri di Tanah Air adalah pengamatan terhadap hilal di masing-masing tempat di wilayah negara ini. Ketika hilal tak terlihat di Indonesia pada Senin lalu, maka tidak bisa dipaksakan bahwa Idul Fitri mesti jatuh pada Selasa.
Lebih lanjut, dia menuturkan, di zaman sahabat Nabi Muhammad SAW sekalipun pernah terdapat perbedaan waktu hari raya. Hal itu tidak lain karena tidak ada yang melihat hilal.
"Di zaman sahabat Nabi SAW pernah beda Idul Fitri antara di Syam (Suriah dan sekitarnya) dan Madinah. Padahal jarak antarkeduanya dekat. Namun, tampak hilalnya beda. Jadi, beda juga penentuan waktu Idul Fitri-nya," tutur Ustaz Alnof, Selasa (4/6).
Edi Basri Tegaskan Netralitas Pj Gubernur dalam Musprov KONI Riau
DPRD dan Pemkab Pelalawan Gelar Rapat Paripurna Istimewa Peringati Hari Jadi ke-26, Teguhkan Semangat “Bersinergi Menuju Pelalawan Menawan”
Kisah perbedaan waktu Idul Fitri itu tertuang dalam sebuah hadis yang telah disinggung para imam. Misalnya, Muslim (3/126), Abu Dawud (No. 2332), Nasa i (4/105-106), Tirmidzi (No. 689), Ibnu Khuzaimah (No. 1916), Daruquthni (2/171), Baihaqy (4/251) dan Ahmad (Al-Fathur-Rabbaani 9/270).
"Dari Kuraib, sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Haarits telah mengutusnya menemui Muawiyah di Syam.
Berkata Kuraib, Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku (bulan) Ramadhan, sedang aku masih di Syam. Dan aku melihat hilal (Ramadhan) pada malam Jumat.
Suhu Udara Siang Hari di Riau Panas, BMKG: Bisa Capai 36 Derajat Celcius
Ikuti Tradisi, Bupati Afni Pakai Sarung Pimpin Upacara Hari Santri
Kemudian, aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadhan). Lalu Abdullah bin Abbas bertanya ke padaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal. Lalu ia bertanya, Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan)?
Jawabku (Kuraib), Kami melihatnya pada malam Jumat.
Ia (Abdullah bin Abbas) bertanya lagi, Engkau melihatnya (sendiri)?
Helat Pelalawan ke-26, Tabligh Akbar Hadirkan Rhoma Irama
Bupati Zukri Hadiri dan Meriahkan Hari Jadi ke-20 Kecamatan Bandar Seikijang
Jawabku, Ya! Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu awiyah puasa.
Ia berkata, Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka senantiasa kami berpuasa sampai kami sempurnakan 30 hari, atau sampai kami melihat hilal (bulan penanda masuk Syawal).
Aku bertanya, Apakah tidak cukup bagimu rukyah (penglihatan) dan puasanya Mu awiyah?
Bukan Tandingan! Istana Tegaskan Komite Reformasi Polri Bentukan Prabowo Jadi yang Utama
Latihan Militer Indonesia–Singapura di Pekanbaru Ditutup Meriah, TNI AU Bawa Pulang Kemenangan!
Jawabnya, Tidak! Begitulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada kami."