|
PEKANBARUEXPRESS
|
![]() |
|||
| POPULAR YOUTUBE PILIHAN EDITOR | ||||
Editor : Putrajaya | Penulis : Berita.com
JAKARTA - Sentimen konsumen Indonesia terhadap pasar properti nasional tengah mengalami penurunan, seiring dengan ketidakstabilan ekonomi global yang mulai memengaruhi konsumsi rumah tangga.
Berdasarkan hasil studi Rumah.com Consumer Sentiment Study H1 2023, indeks sentimen properti turun dari posisi 59 poin pada periode sebelumnya menjadi 56 poin. Adapun, survei ini berdasarkan 1.000 responden dari seluruh Indonesia yang dilakukan dengan kuesioner daring pada akhir 2022.
Country Manager Rumah.com, Marine Novita mengatakan penurunan tersebut didorong oleh kondisi perekonomian global dengan ditandai oleh inflasi dan kenaikan suku bunga yang mulai dirasakan konsumen sampai ke level rumah tangga.
Bupati Siak Tolak Pembelian Mobil Dinas, Afni: Saya Malu Ditengah Utang Banyak
BPH Migas Persilakan Daerah Batasi Pembelian Pertalite
"Hasil studi mengungkapkan bahwa konsumen Indonesia mengaku pengeluaran untuk belanja terpaksa bertambah sehingga alokasi tabungan bulanan menjadi berkurang," kata Marine dalam keterangan resminya, Rabu (22/3/2023).
Tak hanya itu, Marine melihat adanya kepuasan konsumen yang lebih rendah terhadap iklim real estat, turunnya skor iklim real estat, turunnya persepsi terhadap upaya pemerintah, dan pandangan yang kurang positif terhadap harga properti di masa depan.
Dia menjelaskan, dampak perekonomian global yang mempengaruhi inflasi dan kenaikan suku bunga telah dirasakan hingga ke level rumah tangga yang berimbas pada rencana pembelian properti.
Maret 2023 Berlaku, Pembelian Motor Listrik Disubsidi Rp7 Juta
Pemko Pekanbaru Tinjau Ulang Rencana Pembelian Mobil Listrik
Sebanyak 56 persen responden menyatakan bahwa kenaikan inflasi berdampak pada berkurangnya tabungan bulanan mereka sedangkan 46 persen responden meminimalkan belanja dan pengeluaran mereka. Adapun, lebih dari setengah responden survei atau 53 persen responden mengaku akan menunda rencana pembelian rumah sampai inflasi turun.
Sementara hanya 9 persen responden yang akan membatalkan rencana pembelian properti. “Adapun 38 persen responden akan meneruskan rencana pembelian properti terlepas dari tingkat inflasi," lanjutnya.
Jika inflasi terus berlanjut, dari 38 persen responden tersebut, sebanyak 63 persen di antaranya akan tetap membayar berapapun cicilan bulanan yang diperlukan. Namun, 37 persen responden sisanya akan mencoba mengurangi besaran cicilan bulanan. Di sisi lain, Marine menerangkan, semakin banyak responden yang menilai tingkat inflasi dan suku bunga akan naik.
Pembelian Hewan Ternak Harus Kantongi Surat Sehat
Pembelian Alat Pendeteksi Covid-19 Dibatalkan Gubri
Sementara itu, responden yang optimis dengan apresiasi kenaikan harga properti berkurang. "Sejumlah 77 persen responden menilai akan ada kenaikan tingkat suku bunga, naik 4 persen dari periode sebelumnya," jelasnya.
Sementara, seperti dikutip bisnis.com, 75 persen responden menilai akan ada kenaikan tingkat inflasi, juga naik 4 persen dari periode sebelumnya. Kemudian, 80 persen responden yang optimis dengan apresiasi kenaikan harga properti, angka ini turun 6 persen dari periode sebelumnya.
Marine menambahkan bahwa di tengah situasi dan kondisi yang dirasa sulit untuk membeli rumah, 7 dari 10 atau 70 persen responden setuju jika Pemerintah akan menerapkan pajak progresif terhadap pemilik lebih dari satu properti, terutama mereka para pemilik rumah yang setuju dengan rencana kebijakan pajak tersebut.
"Sementara 13 persen responden tidak setuju dengan pajak progresif dan 17 persen responden tidak tahu apakah pajak progresif perlu diterapkan," terangnya. (*)