Hal serupa disampaikan peneliti PVRI, Muhammad Naziful Haq, yang menyoroti risiko konflik kepentingan dalam tim yang seragam. Baginya, keragaman latar belakang justru penting: akademisi, tokoh masyarakat, hingga figur berintegritas. Tanpa itu, tim reformasi hanya akan terasa seperti cermin besar tempat Polri berbicara dengan dirinya sendiri.
Di sisi lain, Presiden Prabowo tampak menyiapkan “versi tandingan” lewat Komite Reformasi Kepolisian yang melibatkan tokoh publik. Mantan Menko Polhukam Mahfud MD sudah menyatakan kesediaan bergabung. Ia mengingatkan bahwa reformasi tidak boleh berhenti pada regulasi dan struktur, melainkan harus menyentuh ranah budaya.
“Budaya internal Polri inilah yang menjadi tantangan terbesar,” tegas Mahfud.
Pernyataan itu terasa seperti pesan halus: reformasi tidak cukup dengan menambah tim, melainkan menuntut perubahan sikap dan mentalitas yang selama ini menjadi sorotan publik.
Kapolri Bongkar Misteri Penyiram Air Keras Aktivis KontraS: CCTV hingga Bukti Diam-Diam Digeledah!
Faisal Abdul Nasser: Reformasi Polri Penting, Tapi Bukan dengan Menempatkannya di Bawah Kementerian
Kritik dari Dalam
Tak hanya masyarakat sipil, kalangan purnawirawan juga angkat suara. Eks-Kabareskrim Susno Duadji bahkan melontarkan kritik paling keras. Menurutnya, reformasi akan percuma jika hanya menyasar jajaran bawah.