“Akar masalah ada di level elite. Kalau yang direformasi hanya anggota menengah atau bawah, percuma. Justru pejabat tinggi Polri yang harus dibenahi,” katanya.
Pernyataan ini seakan membuka ruang sarkasme publik: kalau masalahnya ada di pucuk, mengapa gunting justru diarahkan ke rumput?
Pertaruhan Legitimasi
Kapolri Bongkar Misteri Penyiram Air Keras Aktivis KontraS: CCTV hingga Bukti Diam-Diam Digeledah!
Faisal Abdul Nasser: Reformasi Polri Penting, Tapi Bukan dengan Menempatkannya di Bawah Kementerian
Dari rangkaian kritik ini, satu benang merah terlihat: reformasi Polri bukan perlombaan siapa yang lebih dulu membentuk tim, melainkan siapa yang mampu merancang mekanisme kredibel, inklusif, dan akuntabel.
Kapolri memang boleh cepat bergerak. Presiden pun berhak menggagas komite versi Istana. Namun publik tak lagi terpesona pada jargon atau seremonial. Yang ditunggu adalah bukti konkret: apakah ada perbaikan layanan di jalanan, di ruang publik, hingga di ruang keadilan?